Pura-pura Jadi Warga Lokal Borobudur

Orang-orang dateng ke Magelang biasanya cuman buat selfie di depan Candi Borobudur barang 1-2 jam, lalu langsung pindah ke kota lain. Tapi sekarang nggak begitu lagi semenjak balkondes Magelang bertebaran di sekitaran candi.

Sekarang Magelang berbenah, terutama di kecamatan Borobudur-nya. Turis nggak lagi dateng ke Magelang cuman buat lihat candi doang, tapi juga bisa liburan sambil kursus-kursus. Dan ini semua sangat mungkin terjadi semenjak berdiri banyak tempat bernama “balkondes”.

Apa Itu Balkondes?

Balkondes ini singkatan dari Balai Ekonomi Desa. Semacam lembaga gitu, yang isinya orang-orang yang bikin kursus mini. Kursusnya macem-macem, ada kursus nanem padi, kursus bikin gerabah, kursus bikin kopi, dan entah kursus apa lagi.

Kursus ini nggak kayak lembaga pendidikan sungguhan, tentu saja. Yang ngajar ya masyarakat lokal.

Ambil contoh, kalau dateng ke balkondes Magelang yang isinya kopi, maka yang ngajar adalah petani kopi lokal (iya, Magelang itu ada kopinya). Kalau dateng ke balkondes yang isinya gerabah, maka yang ngajar adalah pengrajin gerabah lokal. Dan seterusnya.

Pokoknya, pada kursus ini, belajarnya dari tenaga-tenaga yang lokal banget.

Menarik Minat Turis

Lha memangnya apa ada yang mau belajar keterampilan-keterampilan sederhana di pedesaan Magelang situ?

Ooh banyak.

Yang berminat buat belajar umumnya bukan penduduk Magelang sendiri, tapi justru turis. Turis-turis ini umumnya turis luar negeri, yang semula niatnya cuman mau lihat Candi Borobudur, tapi kemudian jadi tertarik dengan kehidupan penduduk sekitar desa. Soalnya kan di negara luar, kan nggak ada itu orang nanem padi, bikin gerabah, wkwkwkkw..

Sebenarnya praktek kasih kursus kearifan lokal ke turis luar gini sudah berjalan dari dulu-dulu. Malah beberapa penduduk belain mengubah rumahnya menjadi homestay segala, supaya turis bisa nginep dan menghayati kehidupan di desa.

Baru dalam dua tahun terakhir, kecamatan Borobudur itu mengorganisir penduduk yang berminat mengadakan kursus-kursus ini supaya bisa dimanajemenin secara lebih profesional. Maka dari situlah ide untuk bikin balkondes.

Penampakan homestay di Balkondes Karangrejo

Balkondes Magelang Itu Ada Apa Aja?

Tahun ini, di Kecamatan Borobudur itu ada 20 balkondes. Sesuai dengan jumlah desa di dalam kecamatan ini yang memang ada 20 buah. Jadi tiap desa pasti punya satu buah balkondes.

Tiap desa itu menjual keunikannya sendiri-sendiri. Balkondes Karanganyar, alias balkondes bikinan Desa Karanganyar misalnya, mereka menjual paket pengalaman membuat gerabah. Soalnya di desa sana memang banyak pengrajin gerabahnya.

Ada lagi Balkondes Karangrejo, yaitu balkondes milik Desa Karangrejo. Keunikannya adalah banyak petani palawijanya, maka mereka menjual paket pengalaman bertani palawija.

Ada balkondes Magelang yang kegiatannya adalah rafting. Ada juga balkondes yang kegiatannya bikin cokelat. Macem-macem lah, kalian bisa lihat sendiri ya di websitenya Balkondes.

Menginap di Balkondes

Tentu mempelajari kursus lokal begini nggak cuman dengan singgah 1-2 jam doang setelah keliling-keliling Candi Borobudur dong. Kegiatan gini bisa makan waktu minimal seharian penuh. Makanya beberapa balkondes Magelang juga nyediain penginapan lho.

Mereka nyebut penginapannya sebagai homestay, tapi menurut saya sih penginapannya kira-kira sekelas guest house gitu deh. Tiap tamu diberi kamar dengan tempat tidur, lengkap dengan kamar mandi pribadi, dan dikasih sarapan.

Nginep di balkondes Magelang tuh serasa nginep di hotel lho. Saking aja staf-staf di balkondesnya itu nggak pakai seragam, terus gaya bicaranya nggak ala-ala lulusan sekolah marketing. Mereka pakai baju biasa aja, dengan gaya bicaranya kayak ngomong sama orang lokal: teduh, ramah, njawani..

Kamar penginapannya rerata berbentuk cottage. Jadi bangunan tiap kamar itu terpisah dari kamar lain.

Dan cottage-nya beneran khas desa. Model bangunannya kayak pondok desa.

Ada yang atapnya model atap limasan. Ada cottage balkondes yang atapnya model atap joglo. Ada yang atapnya model kampung srotongan.

Dan selalu aja tiap cottage itu ada terasnya.

Makanan yang disuguhkan di balkondes Magelang itu juga berupa menu lokal. Menu-menu yang biasanya dikonsumsi orang-orang pedesaan sana lah.

Nah, saya kepingin cerita dikit tentang balkondes yang saya inepin.

Balkondes Ngargogondo tempat saya menginap, merupakan salah satu balkondes yang paling bagus dari sekian banyak balkondes Magelang yang ada.

Balkondes Ngargogondo

Saya tidur di Balkondes Ngargogondo nggak tanggung-tanggung: sampai 4 malam! Soalnya saya memang lagi ada proyek motretin suasana desa di Kecamatan Borobudur, jadi perlu tinggal agak lama.

Sesuai namanya, balkondes yang satu ini berada di Desa Ngargogondo, sekitar 2 km dari Candi Borobudur.

Sebetulnya tempat ini berupa sebuah pendopo besar bernama Bale Gade yang muat untuk 200 orang, dulunya dipakai untuk pertemuan penting di desa (misalnya pesta pernikahan). Di belakang pendopo ada lapangan bundar yang dikelilingi undak-undakan mirip amphiteater. Salah satu staf sempat cerita kepada saya bahwa amphiteater ini sering dipakai untuk pertunjukan sendratari sampai show musik jazz.

Kini semenjak pandemi, Balkondes Ngargogondo lebih sering menjadi tempat prewedding. Juga lebih laris sebagai guest house, lantaran tempat ini punya belasan cottage yang cukup ciamik.

Ada dua macam kamar yang disediain di sini, yaitu kamar tipe Single yang muat buat dua orang, dan kamar tipe Family yang muat buat enam orang.

Kamar Balkondes Ngargogondo

Kamar yang saya tempatin ini kamar tipe Single. Ukurannya kira-kira 3 x 3 meter, belum termasuk teras selebar 1 meter dan kamar mandi yang seukuran 3 x 1 meter.

Saya sedang duduk di dalam kamar saya di Balkondes Ngargogondo.

Pertama kali saya masuk kamar ini, saya langsung senang lihat tempat tidurnya yang berupa queen bed dengan sprei putih, selimut putih, bantal putih persis kayak standarnya hotel. Ada lemari buat nggantung pakaian, dan sebuah AC yang bunyinya halus di pojok ruangan.

Balkondesnya menyediakan cermin lebar di pintu yang menuju kamar mandi. Dan ada meja tulis dengan fasilitas air mineral, plus dua buah laci yang salah satunya ternyata mengandung sajadah.

Kamar mandinya sangat efisien. Ada area basah untuk shower dengan air hangat, plus area kering untuk wastafel dan toilet dengan bidet.

Dan ada handuk dua biji warna putih mencrang. Plus sabun cair, sampo, sikat gigi dan odolnya. Dan ada body lotionnya. (Nulis gini sambil inget jaringan hotel sebelah yang bintang 3, tapi sikat giginya kena charge).

Cermin di kamar ini sebetulnya sudah ideal buat memeriksa baju kita, tapi penerangan kamar yang cuman terpusat dari satu lampu di tengah plafon membuat saya kurang pe-de buat dandan di sana. Akhirnya saya lebih sering dandan di kamar mandi karena lampunya terang banget. Tak apalah, toh saya datang kemari buat motret desa, bukan buat bikin show, wkwkwk..

Perabotan yang serba kayu, termasuk juga kedua lampu baca di sebelah ranjang, plus hiasan anyaman di kepala tempat tidur, bikin saya merasa berada di desa banget. Interiornya memang bergaya pedesaan, tapi nggak kumuh.

Landscape Balkondes Ngargogondo

Setiap pagi, kegiatan saya sebelum berangkat kerja adalah nongkrong di teras kamar saya sendiri sembari ngeliatin lapangan bola. Lho?

penginapan di Magelang
Saya di teras kamar saya di Balkondes Ngargogondo, salah satu balkondes Magelang.

Yes, jadi depan kamar saya (dan kamar-kamar lain) adalah jalan setapak plus lapangan bola yang suka dipakai anak-anak desa itu. Lapangan bola ini berada persis di pinggir suatu jalan raya, sehingga kami bisa lihat kendaraan berlalu-lalang. Sebetulnya nggak banyak kendaraan yang lewat, mungkin hanya satu-dua mobil tiap menitnya, lebih banyak sepeda motor dan sepeda ontel.

Burung-burung berkicauan setiap pagi, seolah menyapa saya supaya segera jalan ke pendopo untuk menyerbu sarapan. Tapi saya sendiri selalu berjalan lambat-lambat karena mau menikmati pemandangan Bukit Menoreh yang berdiri mengayomi balkondes itu. Bukit ini cuman bisa dinikmati pagi, karena tiap sore, selalu ada kabut menyelimuti desa sehingga menutupi bukit.

Tiap kali saya pulang ke sini sore-sore setelah motret seharian, saya selalu senang karena ternyata anak-anak desa lagi main di lapangan bola depan kamar saya. Meskipun lebar setapak yang memisahkan kamar saya dan lapangan itu cuman tiga meter, tapi saya nggak kuatir dikepoin anak-anak desa itu, soalnya ada pager besi dengan taneman rambat yang membatasi area Balkondes dengan area publik.

Lapangan bola yang sering dipakai anak-anak penduduk lokal.
Deretan bangunan di belakang lapangan ini adalah homestay dari Balkondes Ngargogondo, dan kamar saya adalah bangunan ketiga dari kiri.
Foto diambil ketika sedang kabut. Jika tidak kabut, di belakang homestay akan nampak menjulang Bukit Menoreh.

(Kalau lagi nonton anak-anak itu, kadang-kadang saya sedih karena inget anak saya di Surabaya. Dia selalu senang main dengan anak lain, termasuk main bola gini. Ngomong-ngomong, nggak semua orang-orang di kecamatan Magelang ini, terutama yang nggak bekerja di area layanan masyarakat, pakai masker.)

Hawanya sejuk setiap hari, bahkan malam pun sangat dingin. Saya nggak pernah berani mencopot cardigan saya di malam hari karena takut masuk angin. Semua kegiatan saya di desa di malam hari, selalu melibatkan acara ngobrol-ngobrol yang diadakan di pendopo, alhasil banyak angin dari sana-sini masuk ruangan.

Pendopo yang jadi ruang makannya bisa dilihat di video singkat ini ya..

Lihat room tour dan homestay tour di Balkondes Ngargogondo.

Sarapan ala Rumahan

Tiap kali sarapan di Balkondes Ngargogondo, model menunya ya sama. Nasi, dengan sayur yang gonta-ganti, plus lauk-pauk gorengan. Selalu ada tempe dan tahu. Plus sambel dan krupuk.

Rasanya seperti menu rumahan yang biasa dimasak nenek saya ketika saya masih kecil, cuman saking aja ini dihidangkan secara prasmanan.

Mungkin karena ini pandemi ya, jadi selalu ada staf yang berdiri di pinggir meja buat ngambilin piring. Oh ya, meskipun saya nginep di sini 4 malam, tapi saya nggak pernah inget wajah-wajah stafnya karena mereka semua pakai masker. Jadi biarpun penginapan ini letaknya di desa, tapi stafnya tetep konsekuen sama protokol kesehatan lho..

Oh ya, saya selalu punya kebiasaan pribadi ganti handuk tiap hari. Handuk yang udah dipake, biasanya saya geletakin di tempat tidur (dan saya kasih noda bedak, wkwkwk). Tapi tiap kali saya pulang sore, begitu masuk kamar, kamarnya selalu udah dirapikan bersih dan selalu ada handuk baru yang terlipat rapi di rak. Syalalalalala…

Lokasi Balkondes Ngargogondo

Ini lokasinya Balkondes Ngargogondo, bisa kamu itung sendiri jaraknya ke Candi Borobudur.

Meskipun lokasinya cenderung terpencil dari keramaian (lha semua balkondes memang mencil-mencil, hahahhaa..), tapi saya sendiri nggak kuatir tinggal di sini malem-malem.

Gerbangnya balkondes dijagain pegawainya. Pegawainya sendiri juga sekaligus berperan sebagai koki yang masakin makan buat tamu-tamunya yang kepingin makan malam by request.

By request? Yep, kalo malem kita bisa pesen menu-menu casual kayak nasi goreng, mie goreng, singkong keju, dan macem-macem minuman hangat, terus tinggal dianter ke kamar masing-masing. Dan harganya kayak di warung.

(Tapi saya sendiri nggak nyobain makan malem bikinan mereka, karena kerjaan saya menghadiri pertemuan di restoran-restoran sampai malem).

Lagian siapa juga yang mau keluar malem-malem kalo bukan turis? Warga desa sini, kalau sudah malem menjelang ya tidur semua.. wkwkwkwk..

Ndeso Banget

Tapi kan balkondes ini jauh ya dari pusat kota Magelang? Rasanya nggak kebayang gitu berada di sini, pura-pura jadi penduduk lokal, dan nggak ketemu sinyal internet, hiks hiks..

Memang rerata pengunjung yang datang ke sini adalah pengunjung yang niatnya memang kepingin menghayati suasana desa. Pengunjungnya belajar pagi sampai siang, terus malemnya tidur di penginapannya balkondes.

Kalau mau ke sini, bisa pakai mobil sendiri. Atau mau minta dijemput sama orang balkondesnya pun bisa. Mau pakai andong? Jangan ditanya. Andong lho bertebaran di tiap jengkal di Kecamatan Borobudur.

Yang penting kalau mau menikmati balkondes Magelang dengan segala kursusnya, kudu reservasi dulu sama balkondesnya. Jangan kuatir, masing-masing balkondes udah punya account Instagram buat dikepoin dulu.

Alternatif yang Indah!

Buat saya, yang selama ini kebiasaannya kalau berwisata itu cuman ngitung tiket obyek wisata dan harga kamar hotel, balkondes ini jelas kasih pengalaman spesial. Soalnya berlibur di sini itu nggak cuman sekedar lihat objek wisata dan nginep doang, tapi juga sekalian meleburkan diri bersama masyarakat lokal.

Di tempat-tempat lain sih udah ada juga tempat wisata yang jualan konsep eduwisata kayak gini (misalnya yang saya tahu itu di Batu-Jawa Timur, atau di Gianyar-Bali, atau di Garut-Jawa Barat), tapi kayaknya pilihan eduwisatanya nggak sebanyak di Borobudur sini deh..

Nah, kalau kamu kepingin nyobain eduwisata di sini, saya kasih tipnya:

  1. Pilih balkondes yang menyediakan kegiatan yang kamu suka. Daftar balkondes Magelang bisa dilihat di website tentang balkondes.
  2. Hubungi contact person dari masing-masing balkondes yang tertera di atas. (Menghubungi ini perlu, soalnya di musim pandemi begini, beberapa kegiatan yang nampak tertera di website mungkin sedang tidak available)
  3. Cari penginapan yang terdekat dengan balkondes itu untuk tempatmu menginap (terutama jika kebetulan kamu memilih balkondes yang nggak ada guest house-nya).
  4. Tinggal cap cuss deh ke balkondes tersebut pada hari yang sudah kamu tentukan.

Bisa jadi kamu cuman kepingin nginep di salah satu balkondes ini, tapi nggak mau eduwisatanya. Boleh kok!

Kamu tinggal buka aja online travel agent yang kamu suka, terus buka kolom hotel dan ketik “balkondes”. Nanti nongol sejembreng balkondes Magelang yang bisa dipesan, dan kamu tinggal milih.

Balkondes Ngargogondo yang saya inepin ini juga ada vouchernya lho di online travel agent. Nama resminya adalah The Gade Village Balkondes Ngargogondo.

Well, ternyata berkunjung ke Magelang itu nggak cuman melulu lihat Candi Borobudur kan? Yuk, sekali-sekali merasakan desa di balkondes Magelang. Dijamin suasananya bikin kamu kangen!

38 comments

  1. Pernah denger dari temen Blogger Jadul orang magelang waktu terakhir ke Borobudur cerita dikit soal balkondes ini. Ada anak2 Budhe/Bulik di Magelang, yang kini kuliah di Bandung, pernah cerita, ternyata sebagus ini tempatnya yaa, emang ituuuu kabut bikin syahduu mendayuu, kbayang kalo pas keluar kamar huuuuu, smiliwiiirr sejuknyaaa.

    Next kalo mudik ke Magelang, mau mampir Balkondes ahhh, kangen suasana pedesaan, kbayang itu penjaga2nya yang ramah ala2 njawa.
    Semoga pandemi cepat berlaluuu.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, betul. Setiap subuh, kira-kira sampai jam 6.30 gitu, selalu kabut pada bulan Juni, sehingga hawanya sejuk sekali, mirip hawa Bandung di tahun 90-an.

      Teh Nchie pasti seneng banget di sini. Kapan-kapan dicoba ya 🙂

  2. Dinilint says:

    Aku tuh dulu suka penasaran bule-bule itu kalo stay lama di Borobudur ngapain aja, kok dapet akses ke sana? Oh ternyata orang desa sekitaran sana suka kasih kursus soal pedesaan ke mereka. Seru!

    Pemandangan dan udara di sekitaran Borobudur emang enak banget. Ditambah sekarang ada fasilitas penginapan bersih nyaman dari Balkondes, layak nih dicoba.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, Din. Dan orang lokal kayak kita sebetulnya malah lebih gampang menikmati stay lama di Borobudur, karena lingkungan biologisnya masih Indonesia banget. Nggak kayak bule yang mungkin masih rewel kalau lihat cicak atau nyamuk, wkwkwkwk…

      Kalau pandemi sudah kelar, sesekali dicoba ya.. 🙂

  3. Ya ampuuuun Vic, kalo Nemu penginapan begini sih, dengan view gunung, udara masih bersih, aku jg mauuuuu. Lebih seru drpd hotel.

    Selama ini pernah denger sih balkondes, walo ga terlalu paham artinya. Dan JD tahu kalo mereka ini punya penginapan, banyak aktifitas yg bisa dilakuin juga. Kalo gitu sih, sayang kalo cuma sehari. Aku juga bakal milih minimal 4 harian biar puas dan klo belajar pelatihannya, setidaknya udah menguasai dikit drpd cm sehari :D.

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, aku juga suka. Ambience-nya itu seger banget khas desa. Kalau lagi nginep di sini, siangnya bisa ikut kursus di balkondes-balkondes lain, atau wisata keliling daerah ini pakai jeep wisata, wkwkwk..

  4. Waktu aku tur VW Safari melewati Balkondes Karanganyar, memang ga lama karena sekadar foto2 saja. Aku ikutan paket 3 destinasi paling cuma 2 jam itupun udah kesiangan jadi panas-panasan deh hehehe. Melihat Balkondes serta kamar tempat mbak Vicky menginap, keren nih! Ga nyangka dalamannya sebegitu menarik. ALamnya syahdu begini, kayak sepi tapi bikin betah. Dengan pesona alam yang indah dan keramah-tamahan para stafnya yang natural, aku kepengen deh kapan2 bermalam di sana 😀 Ga apa2 deh sinyal internet agak2 gimanaaa hihihi 😀

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Ya, Balkondes Ngargogondo yang kuinepin ini memang nyaman buat ditinggalin.

      Teh, kalo naik VW itu enaknya pagi-pagi. Tapi ya gitu, kalo mampir ke tempat eduwisatanya, tempatnya mungkin belum buka, hihihhi…

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Iya, gitu, Lis? Mungkin beda iklim aja kali, atau beda musim, hihihihi..

      Aku kalo lihat brosurnya desa sekitaran Sun Moon Lake kok gambarnya bagus-bagus semua, hihihi..

  5. ainun says:

    dari pertama tau ada istilah Balkondes, aku dibikin penasaran. “Proyek” pemerintahan setempat boleh juga, konsep ruang serbaguna desa yang juga bisa dijadikan penginapan seperti guest house.
    apalagi suasanya desa banget, tenang, udah pasti nyaman

    kamarnya juga cukup luas ini menurutku, seperti pulang ke rumah nenek suasananya

  6. Aku sedih belum pernah ke Candi Borobudur. Rencananya tahun 2020 tapi apa daya lagi pandemi. Semoga tahun 2022 bisa ke sana. Mau coba nginep di Balkondes deh, Teh 🙂

  7. Alya says:

    Adem banget pasti disana, udah lama banget nih saya jalan-jalan apalagi keluar kota termasuk ke puncak. Jadih kangen udara dingin dan tempat alam disana, mbak. Saya terakhir ke magelang sekitar awal tahun 2015

  8. Fenni Bungsu says:

    Walaupun pengambilan gambar sedang berkabut, menurut daku disitu letaknya rasa penasaran ingin merasakan langsung suasana di sana.
    Jadi nggak hanya dapat pengetahuan aja ya karena belajar seharian, tapi sekaligus juga liburan yang menarik wisatawan berkunjung

  9. Liswanti says:

    Adanya balkondes ini menarik ya mba, jadinya dari jalan-jalan liat borobudur sekalian belajar banyak hal. Kalau aku kesana pengennya kursus kopi. Menarik itu.

  10. wow kerennn,mauuu…

    kebetulan banget saya ingin solotraveling ke Borobudur, berangkat dari Jogja karena punya rumah di sana
    Ternyata ada balkondes yang bikin betah , gak cuma ke borobudur

    belajar gerabah kayanya asyik ya?

    1. Wow, menarik sekali, Mbak. Aku butuh liburan sangat. Membaca ini, Aku Jadi pengin buka-buka folder foto jaman kuliah di Jogja. Semoga musibah ini segera berlalu dan semua diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menikmati petualangan

    2. Ning! says:

      Enak banget ya Mbak ini buat staycation bareng keluarga. Apalagi yang dari kota liatnya gedung, menghirup udara berpolusi, penat dengan kemacetan.

      Balkondes ini bisa jadi tempat yang cocok untuk melepas penat sejenak, menikmati alam, berbaur dengan penduduk lokal, makan makanan rumahan. Mantap!

      Jadi pengin ke sini, masukin wishlist ah. Makasih sharingnya Mba Vic.

  11. Ina Tanaya says:

    Buset selama tahun-tahun saya sering ke Muntilan (Ibu saya sakit dan tinggal di sana), ngga pernah dengar Balkondes. Sangat inspiratif buat tinggal meleburkan diri dengan penduduk lokal, apalagi bisa belajar eduwisata, belajar grabah.

Tinggalkan komentar