Paling males itu ya kalau udah beli desain kaos keren-keren, pas dipake jalan-jalan tahu-tahu papasan dengan orang lain dan ternyata..orang itu pake kaos yang sama dengan kita! Whoaa.. padahal kita beli kaosnya udah di tempat eksklusif, harganya nguras dompet, kok masih ada aja yang nyamain? Eits..untungnya sekarang kita bisa bikin desain baju kaos sendiri lho, dengan desain karya kita sendiri, dan harganya pun nggak perlu bikin kita jadi puasa. Asyiknya lagi, bisa bikin kaos satuan! Caranya gimana?
Lifestyle
Swaranabya: Lirik Puisi Musik Jadi Satu
Styawan a.k Iwan, personelnya bertindak memainkan gitar sebagai pengendali kunci nada. Personel lainnya, Ipanx Arsyad, bertugas membawa jimbe (sejenis alat perkusi yang mirip tifa) dan biola untuk menciptakan nuansa dalam lagu. Latree Manohara, menggawangi grup ini sebagai vokalis dan punya rentang suara yang melengking.
![]() |
| Swaranabya membawakan lagu musikalisasi puisi dalam penampilan mereka di Solo, bulan Agustus lalu. Foto diambil dari sini |
Tampil membawakan lima lagu sebagai bintang tamu di Malam Puisi Surabaya di Kaya Resto pada weekend lalu (acara itu saya tulis di sini), Swaranabya bikin penonton yang sudah mulai kelelahan ingin pulang, terpaku di kursi masing-masing. Baru membuka lagu pertama, Dinding yang Retak di Bulan Januari, penonton sampek tertegun dan menaruh HP masing-masing. Panitia tergopoh-gopoh mematikan lampu supaya suasana temaram, padahal penonton sudah kadung tercekam beku terbius penampilan Swaranabya.
![]() |
| Penampilan Swaranabya dalam lagu musikalisasi puisi di Kaya Resto, 10 Oktober 2015 Gambar diambil dari sini |
Lagu kedua, Suicide, lebih manis dengan petikan melodinya Iwan, dan penonton terpesona. Disusul lagu-lagu berikutnya: Catastrophe dan Kangen, saya menunggu mengawasi pintu hall, mencari-cari apakah ada penonton yang bosan melangkah pergi. Nggak ada.
Bangun Tengah Malam adalah lagu terakhir yang mereka bawakan, dan justru menjadi penyebab kenapa saya berada di kafe ini nonton Swaranabya. Saya inget Latree mengirimi saya rekaman lagu itu beberapa tahun lalu, dan semenjak itu saya nitip ke Latree supaya kalau dos-q manggung di Surabaya, saya kepingin diundang buat nonton. Simak lirik lagunya:
keras
Tanah tak bertuan, tiada yang pernah aku kenali
Bangun tengah malam, aku tahu impian ini tak akan hanya jadi mimpi
Kelam dalam sendiriku, akan kubisikkan pada pagi yang belum
datang
Rekaman performa mereka dapat disaksikan di sini, sini, dan di sini
Latree cerita ke saya bahwa dos-q sudah mulai memusikalisasi
puisi semenjak tahun 2010. Dos-q merasa kalau nyanyi sendirian rasanya monoton, sehingga dos-q merasa butuh gitaris. “Aku bisa main gitar, tapi cuman genjreng-genjreng thok. Ndak bisa metiknya,” dos-q ngaku. Peran gitaris itu akhirnya diserahkan kepada Iwan yang dos-q temuin setahun kemudian. Berikutnya Ipanx bergabung, dan jadilah Swaranabya.
Di Jawa Tengah, Swaranabya manggung dari hall satu ke hall lain, terutama di acara-acara pembacaan puisi. Seiring dengan semakin bergaulnya puisi untuk diterima masyarakat, jam manggung Swaranabya semakin tinggi.Saat ini rekaman penampilan akustik musikalisasi puisi Swaranabya bisa didownload di sini. Album indie mereka, saat ini lagi digodok dalam proses mixing dan bisa diperoleh via internet secepatnya.
Komunitas Online Kotajancuk: Kumpulan Penggila Puisi
Seperti apa sih kumpulan pecinta puisi itu? Dalam pengetahuan kalangan orang awam, lirik puisi diapresiasi di gedung-gedung teater; contoh kalau bukan berupa lomba baca puisi ya pembacaan monolog/dialog berupa baris-baris yang bunyi suku katanya mirip (dan itu membuat saya susah membedakan mana puisi, mana lirik lagu rap). Tapi komunitas online Kotajancuk, kumpulan penggemar perangkai kata-kata puisi di Malam Puisi Surabaya … Read more
