Huehehe..gw tau kadang-kadang masyarakat begitu awam. Tapi gw pikir pers nggak boleh mengekspresikan kesotoyan mereka kalo mereka awam juga. Coz pers yang sotoy sangat berbahaya, karena bisa menyesatkan masyarakat.
Seperti yang ditulis di sebuah koran terbitan Kalimantan Tengah hari ini, “…dokter spesialis anak F mengatakan bahwa bayi J mengalami masalah dengan paru-parunya. Namun selama menderita paru-paru, tapi tidak ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam.”
Gw sampai ngakak bacanya. Inilah akibatnya kalo orang nggak kompeten disuruh jadi wartawan. Nih orang nggak pernah gaul ya? Emang kenapa bayi sakit paru kalo nggak ditangani dokter penyakit dalam? Nggak ada hubungannya toh?
Lalu gw mikir barangkali ini bukan masalah wartawannya yang nggak tau, tapi mungkin orang awam umumnya juga nggak tau. Berkat ketidaktahuan masyarakat kita yang specialist-minded, orang sering ngira bahwa penyakitnya kudu langsung ditanganin dokter spesialis. Misalnya kasus bayi J yang sakit paru di atas, wartawan menyangka si bayi mestinya ditangani dokter spesialis penyakit dalam. Padahal seharusnya bayi dalam usia berapa pun kudu ditangani dokter anak. Dokter umum juga boleh menolong, untuk kasus-kasus di mana dokter umum itu kompeten. Tapi yang jelas, bayi tidak boleh ditangani dokter penyakit dalam.