Tanda Sepatu Anak Ideal

Sering gemas saya kalau jalan-jalan dan lihat anak-anak berkeliaran di tempat umum dengan kaki nyeker alias tidak pakai alas kaki. Salah satu teman saya punya dua anak laki-laki, yang paling besar sudah berumur lima tahun, disuruh pakai sepatu itu susahnya minta ampun. Teman saya mencoba mendidik anaknya itu pakai sandal, susah juga dan seringkali sandalnya … Read more

Cara Hidup Sehat yang Lebih Mudah dan Hemat

“Aku males berobat soalnya ogah ngantri,” curhat seorang teman suatu hari ketika dia jatuh sakit.
Saya nggak menyalahkannya. Sebagai dokter yang kekenyangan lihat pasien yang datang sambil cemberut karena kelamaan ngantri, saya bisa mengerti bahwa menunggu itu tidak enak. Di tulisan ini, saya bahkan pernah mengungkapkan bagaimana orang saking sakitnya mau bela-belain ngantri cuma demi dapat obat. Terus, sampai kapan kita mau ngantri terus? Mau sehat saja kok harus susah?
 
Saya kayaknya sudah bolak-balik mengoceh di blog ini tentang bagaimana saya mengatur pola hidup sehat untuk diri saya sendiri dan keluarga. Mulai dari selektif kalau mau beli kosmetik, pola makan sehat, menghitung jumlah air yang diminum setiap harinya, sampai mengurangi ketergantungan pada garam dan gula. Tapi saya nggak pernah cerita bagaimana caranya supaya tidak usah mengantri ketika sakit.
 
Jatuh sakit itu jadi bikin bete lantaran orang harus mengantri. Dan mengantrinya dua kali. Yang pertama mengantri masuk ruang praktek dokternya. Yang kedua adalah mengantri menebus obat di apotiknya.
 
Mengantri yang pertama bisa diantisipasi karena sekarang banyak dokter suruh sekretarisnya bikin janjian dengan nomor antrian yang ada jamnya. Pasien yang dapat giliran nomor 1, 2, 3 disuruh datang lebih awal, sedangkan pasien nomor 10, 15, 20, disuruh datang pada satu sampai tiga jam kemudian. Pasiennya senang karena dia tidak perlu wasiran lantaran kelamaan duduk di ruang tunggu.
 
Tapi mengantre yang kedua tidak bisa ditanggulangi. Kalau memang sudah ditakdirkan mengambil obat di apotik yang itu, ya sudah tidak boleh menebus obat di apotik yang lain. Bagian yang repot, kalau apotik yang didatangi si pasien itu tidak lengkap. Jika obat yang diresepkan si dokter itu tidak dijual di apotik itu, sang pasien harus pergi mencari sendiri ke apotik lain. Lama-lama sakitnya nambah, karena si pasien pegal-pegal lantaran keliling kota mencari apotik yang menjual obat yang tertera dalam resep sang dokter.
 
Untungnya sekarang situasi lebih gampang, karena banyak apotik menjual obat-obatannya secara online. Konsepnya, apotiknya membuat aplikasi yang bisa diunduh dengan Android, dan obat-obatan yang mereka jual pun tercantum di aplikasi itu. Konsumen yang mau membeli obat, tinggal milih-milih obat yang ada di dalam aplikasinya, lalu masukkan ke shopping cart, bayar, dan voila..obat pun dikirim ke rumah.
 

Read more

Dicari: Ide Kreatif untuk Wisata Anak

Tema tentang wisata anak buat sebagian orang terasa di awang-awang. Kalau saya tanya ke sebagian orang tua muda tentang apa yang mereka lakukan buat mengajak anak mereka wisata, jawaban yang paling sering mereka ucapkan adalah, “Saya biasanya mengajak anak-anak ke gunung/pantai..” (intinya mengajak anaknya ke tempat yang jauh sekali dari rumah) atau “Saya biasanya menunggu dapat cuti..” atau “Saya lihat-lihat dompet. Kalau bulan ini ada rejeki lebih, baru saya ajak mereka jalan-jalan beli sendal Crocs (KW)..” Begitulah mindset kita tentang wisata anak, sering kali wisata anak itu diartikan harus pergi ke tempat yang jauh, yang memakan waktu minimal seharian untuk nyetir pulang pergi. Atau menuntut waktu yang lama, saking lamanya sampai harus menunggu orangtuanya cuti dulu. Dan harus mahal alias makan duit banyak. Mau mengajak anak senang saja kok susah banget? Nggak heran di kalangan kira-kira sering beredar ledekan “Dasar elu kurang piknik..”

Wisata anak semestinya yang bisa memberikan value untuk sang anak, bukan sekedar membeli harga.
Wisata anak semestinya yang bisa memberikan value untuk sang anak, bukan sekedar membeli harga.

Saya belum pernah ngajak anak saya wisata ke tempat yang jauh karena memang belum ada kesempatan untuk membawa bayi berumur tujuh bulan ini keluar kota. Karier saya membawa si anak bersenang-senang (begitulah saya mendefinisikan wisata anak) baru sebatas membawanya naik mobil keliling kota dan tawaf keliling mall. Menurut saya itu sudah termasuk wisata karena sepanjang jalan Fidel antusias melihat pemandangan dan ogah dipangku duduk. Saat kami janjian ketemuan dengan teman yang sama-sama punya bayi, Fidel sangat senang main dengan anak seumurannya, biarpun definisi main cuma menggapai-gapai ujung stroller satu sama lain. Tapi bukankah wisata anak memang begitu, tidak harus jauh, tidak harus lama, tidak harus mahal, dan tidak selalu harus bersama papa-mamanya.

Teman saya, yang tinggal di Tangerang, punya ide menarik buat wisata anak. Anaknya dua, yang satu berumur tujuh tahun, yang satu lagi berumur empat tahun. Bersama suaminya, mereka berempat pergi ke sebuah kompleks perumahan di dekat daerah tempat mereka tinggal. Di kompleks itu ada taman yang punya jogging track. Nah, mereka berempat jalan-jalan sepanjang track itu sembari ketawa-ketiwi. Tahu kenapa itu berkesan? Karena si ayah moto-moto mereka berempat sepanjang piknik kecil itu dan mereka sekeluarga pakai baju yang warnanya sama. Ketika teman saya mengunggah foto-foto itu ke Instagram sepanjang pekan, semua fotonya mengandung Like sampai puluhan. Itu wisata anak, padahal mereka cuma jalan-jalan di jogging track. Semestinya developer-nya kompleks itu menarik royalti.

Sewaktu saya komen di fotonya bahwa jogging track di kompleks di Serpong itu mengingatkan saya pada kompleks Vila di Lembang, teman saya bilang, “Oh, gw pernah ke sana. Duh, perjuangan banget deh ke Bandung itu. Macet ke sananya nggak nahan. Padahal anak gw seneng di Bandung itu soalnya dia hobi ngasih makan kelinci..”

Saya bingung, orang Tangerang cuma mau kasih makan kelinci saja kok harus jauh-jauh ke Bandung. Pelihara kelinci saja di rumah, kan beres?

Tentu saja ada masalah maintenance kelinci dan kebetulan teman saya bukan orang yang senang memelihara hewan yang bisa pup sembarangan. Tapi anaknya memang senang pura-pura jadi peternak dan di sekitar rumah mereka di Tangerang tak ada tempat yang bisa mengakomodasi hal itu.

Intinya, memang ada value yang dicari para orang tua dalam urusan wisata anak. Mereka ingin anaknya mendapat pengetahuan dari piknik-piknik lucu itu. Mereka ingin yang praktis, kalaupun anaknya kotor-kotor, mamanya jangan sampai kucel karena sibuk membersihkan anak yang piknik. Mereka ingin tempat yang kira-kira tidak terlalu jauh dari rumah supaya perjalanannya tidak terlalu makan waktu dan biaya. Mereka ingin dengan berwisata anaknya bisa mendapat keterampilan hidup alias life skills, minimal bisa menentukan ingin jalan ke mana tanpa harus sedikit-sedikit menoleh ke orangtuanya. Dan kalau bisa tempatnya keren supaya fotonya tidak memalukan kalau dipamerkan ke nenek/tetangganya yang kepo.

Halo, Parents yang sudah pernah ngajak anaknya wisata. Wisata anak yang bagaimana yang menyenangkan buat Anda?

Read more