Dicari: Ide Kreatif untuk Wisata Anak

Tema tentang wisata anak buat sebagian orang terasa di awang-awang. Kalau saya tanya ke sebagian orang tua muda tentang apa yang mereka lakukan buat mengajak anak mereka wisata, jawaban yang paling sering mereka ucapkan adalah, “Saya biasanya mengajak anak-anak ke gunung/pantai..” (intinya mengajak anaknya ke tempat yang jauh sekali dari rumah) atau “Saya biasanya menunggu dapat cuti..” atau “Saya lihat-lihat dompet. Kalau bulan ini ada rejeki lebih, baru saya ajak mereka jalan-jalan beli sendal Crocs (KW)..” Begitulah mindset kita tentang wisata anak, sering kali wisata anak itu diartikan harus pergi ke tempat yang jauh, yang memakan waktu minimal seharian untuk nyetir pulang pergi. Atau menuntut waktu yang lama, saking lamanya sampai harus menunggu orangtuanya cuti dulu. Dan harus mahal alias makan duit banyak. Mau mengajak anak senang saja kok susah banget? Nggak heran di kalangan kira-kira sering beredar ledekan “Dasar elu kurang piknik..”

Wisata anak semestinya yang bisa memberikan value untuk sang anak, bukan sekedar membeli harga.
Wisata anak semestinya yang bisa memberikan value untuk sang anak, bukan sekedar membeli harga.

Saya belum pernah ngajak anak saya wisata ke tempat yang jauh karena memang belum ada kesempatan untuk membawa bayi berumur tujuh bulan ini keluar kota. Karier saya membawa si anak bersenang-senang (begitulah saya mendefinisikan wisata anak) baru sebatas membawanya naik mobil keliling kota dan tawaf keliling mall. Menurut saya itu sudah termasuk wisata karena sepanjang jalan Fidel antusias melihat pemandangan dan ogah dipangku duduk. Saat kami janjian ketemuan dengan teman yang sama-sama punya bayi, Fidel sangat senang main dengan anak seumurannya, biarpun definisi main cuma menggapai-gapai ujung stroller satu sama lain. Tapi bukankah wisata anak memang begitu, tidak harus jauh, tidak harus lama, tidak harus mahal, dan tidak selalu harus bersama papa-mamanya.

Teman saya, yang tinggal di Tangerang, punya ide menarik buat wisata anak. Anaknya dua, yang satu berumur tujuh tahun, yang satu lagi berumur empat tahun. Bersama suaminya, mereka berempat pergi ke sebuah kompleks perumahan di dekat daerah tempat mereka tinggal. Di kompleks itu ada taman yang punya jogging track. Nah, mereka berempat jalan-jalan sepanjang track itu sembari ketawa-ketiwi. Tahu kenapa itu berkesan? Karena si ayah moto-moto mereka berempat sepanjang piknik kecil itu dan mereka sekeluarga pakai baju yang warnanya sama. Ketika teman saya mengunggah foto-foto itu ke Instagram sepanjang pekan, semua fotonya mengandung Like sampai puluhan. Itu wisata anak, padahal mereka cuma jalan-jalan di jogging track. Semestinya developer-nya kompleks itu menarik royalti.

Sewaktu saya komen di fotonya bahwa jogging track di kompleks di Serpong itu mengingatkan saya pada kompleks Vila di Lembang, teman saya bilang, “Oh, gw pernah ke sana. Duh, perjuangan banget deh ke Bandung itu. Macet ke sananya nggak nahan. Padahal anak gw seneng di Bandung itu soalnya dia hobi ngasih makan kelinci..”

Saya bingung, orang Tangerang cuma mau kasih makan kelinci saja kok harus jauh-jauh ke Bandung. Pelihara kelinci saja di rumah, kan beres?

Tentu saja ada masalah maintenance kelinci dan kebetulan teman saya bukan orang yang senang memelihara hewan yang bisa pup sembarangan. Tapi anaknya memang senang pura-pura jadi peternak dan di sekitar rumah mereka di Tangerang tak ada tempat yang bisa mengakomodasi hal itu.

Intinya, memang ada value yang dicari para orang tua dalam urusan wisata anak. Mereka ingin anaknya mendapat pengetahuan dari piknik-piknik lucu itu. Mereka ingin yang praktis, kalaupun anaknya kotor-kotor, mamanya jangan sampai kucel karena sibuk membersihkan anak yang piknik. Mereka ingin tempat yang kira-kira tidak terlalu jauh dari rumah supaya perjalanannya tidak terlalu makan waktu dan biaya. Mereka ingin dengan berwisata anaknya bisa mendapat keterampilan hidup alias life skills, minimal bisa menentukan ingin jalan ke mana tanpa harus sedikit-sedikit menoleh ke orangtuanya. Dan kalau bisa tempatnya keren supaya fotonya tidak memalukan kalau dipamerkan ke nenek/tetangganya yang kepo.

Halo, Parents yang sudah pernah ngajak anaknya wisata. Wisata anak yang bagaimana yang menyenangkan buat Anda?

Read more

Optimalkan Peluang Usaha Rental Mobil

Peluang Usaha Rental Mobil Nissan Elgrand
MPV yang menganggur di garasi rumah kita dapat dimanfaatkan untuk menjadi usaha rumahan. Gambar diambil dari sini.

Rental mobil merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan lantaran menjadi jasa yang dicari banyak orang, saat ini. Persoalannya, harga mobil yang kini membubung tinggi membuat tidak semua orang bisa membeli mobil. Padahal, selama Pemerintah belum bisa bikin sistem jalan anti macet yang efisien dan harga bahan bakar minyak masih menjadi momok di Indonesia, maka selama itulah orang masih tetap butuh alat transportasi.

Di kota-kota besar macam Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, dan sebagainya, kebutuhan akan alat transportasi lebih pelik lagi karena transportasi menjadi tukang punggung perekonomian. Ketika orang di sana tidak bisa membeli mobil atau motor, maka mereka akan menyewa. Dan di sinilah ceruk peluang bisnis bagi para pengusaha rental mobil.

Eddy Fahmi, pebisnis rental mobil Insolu Forward di Surabaya, bercerita kepada saya bahwa membuat bisnis rental mobil sebetulnya nggak susah-susah amat. Nggak perlu punya banyak-banyak mobil, punya satu mobil saja sudah bisa dipakai untuk bikin rental mobil. Yang perlu diperhatikan, mobil yang mau disewakan sebaiknya adalah jenis mobil yang dibutuhkan banyak orang. Dan biasanya, orang paling butuh mobil yang muat banyak penumpang atau bisa dimuati banyak barang. Tidak heran, kendaraan MPV alias Multi Purpose Vehicle paling laris untuk disewakan.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana mencari konsumen supaya modal yang dipakai untuk beli mobil itu cepat kembali. Konsumen yang menyewa MPV untuk membawa banyak orang, biasanya tipe yang mau liburan keluarga. Rental mobil yang menyewakannya bisa kebanjiran pesanan di musim liburan. Tetapi bila tidak sedang musim liburan pun, MPV bisa disewakan ke perusahaan, terutama untuk membawa muatan barang. Perusahaan yang punya jadwal tetap kirim-kirim barang ke klien merupakan partner yang pas  untuk para pebisnis rental mobil ini.

Hampir semua merk mobil kini punya MPV, sehingga para pengusaha sewa mobil tinggal memilih merk mobil mana yang mau mereka beli untuk disewakan. Kadang-kadang urusan memutuskan untuk membeli mobil bisa makan waktu berminggu-minggu karena berbagai pertimbangan. Sebetulnya jika mau mengacu pada preferensi konsumen rental mobil, mudah. Meskipun sebagian konsumen senang rental mobil murah, tapi hampir semua konsumen loyal ingin rental mobil yang bisa menyewakan MPV yang nyaman. Sebuah keluarga yang memutuskan untuk menyewa MPV umumnya adalah keluarga besar yang mementingkan kenyamanan. Sementara itu bila konsumennya merupakan korporat, mereka lebih suka jika mobil MPV-nya nyaman dipakai berkendara di perkotaan. Tipe konsumen korporat bahkan tidak segan-segan menyewa MPV yang berkelas premium jika tujuannya adalah menampilkan mobil itu sebagai representasi perusahaan mereka, meskipun sebetulnya mobilnya hanya mobil sewaan.

MPV premium mungkin makan banyak biaya untuk perawatannya, tetapi sebetulnya biaya perawatannya ini bisa “kembali” bila rental mobil bersangkutan menemukan konsumen penyewa yang tepat. (Mengapa konsumen senang mobil mewah? Lihat jawabannya di sini.) Konsumen korporat merupakan jenis pelanggan yang bisa menggunakan vendor yang sama setiap kali butuh jasa transportasi. Konsumen yang menggunakan mobil untuk networking, umumnya menyewa mobil bisa sampai berhari-hari. Bila mobil MPV yang digunakan berjenis city car, umumnya tetap irit meskipun mesin yang digunakan berkelas 2500 cc dan menuntut bensin oktan 92. Dan konsumen korporat yang sedang networking umumnya memang hanya menggunakan mobil di dalam kota, dan mereka biasanya hanya menjelajah di kota-kota besar.

Jika kita sedang mencari peluang usaha kecil dari rumah sendiri dan kebetulan punya MPV premium di garasi, kita bisa memanfaatkan mobil keluarga kita ini untuk disewakan ke pelanggan-pelanggan korporat. Anggap saja mobil kita disewakan selama 10 hari dalam sebulan, sedangkan pada sisa-sisa harinya mobil ini kita pakai sendiri untuk keperluan keluarga sehari-hari. Bila kita melakukannya dengan telaten selama tiga tahun saja, modal yang kita keluarkan untuk membeli mobil ya bisa kembali.

Read more

CSR Favorit: Air Bersih

  Gegara risetnya Nielsen yang pernah saya tulis di sini, saya jadi iseng mengulik kenapa masyarakat lebih suka isu air bersih untuk jadi sarana amal orang-orang bermodal (baca: sarana buat jadi obyek CSR perusahaan). Air bersih mungkin sudah jadi konsumsi biasa dalam kehidupan kita sehari-hari yang nyaman, tapi ternyata ada saat-saat tertentu ketika air bersih … Read more