Salah satu teman saya punya anak empat orang. Masih kecil-kecil. Kalau dia bawa anaknya jalan-jalan, dia pusing sendiri, soalnya anak-anaknya periang banget, suka lari-lari ke sana kemari. Dia kerepotan ngejar-ngejar mereka satu per satu.
Problem jadi berlipat ganda kalau anak-anaknya itu ketemu teman-teman seumuran mereka. Dia pusing sendiri ngejar-ngejar anaknya, karena sering ketuker sama anak orang lain!
“They look all the same!” cerita teman saya itu waktu curhat sama saya.
Lalu tibalah saatnya foto bareng keluarga besar. You know lah, jenis foto di mana kita foto bareng bude, pakde, opa-oma, sepupu-sepupu bersama anak-anak mereka. Kita rangkul anak kita di dekat kita buat berpose-massal-yang-nanti-kalo-dicetak-pasti-nggak-akan-keliatan-jelas-muka-kita-itu, tapi si kecil malah ngeyel mintak duduk deket sodara-sodara sepupunya yang sama kecilnya juga.
Pada waktu foto dicetak, nanti kan diabsen, mana kita, mana kakak kita, mana ibu kita, mana suami kita, mana anak kita. Kalau pun diabsen dan dijawab ngawur pun nggak ada bedanya, orang nggak peduli mana kita, apalagi yang mana itu anak kita. Kesimpulan dari foto keluarga besar itu selalu sama, “Oh, si Pak/Bu itu sudah punya anak cucu cicit banyak sekali..”
Dan itu membawa kita kepada pertanyaan iseng, “Terus ngapain anak kita dan pasangan kita didandanin baju bagus-bagus kalau ujung-ujungnya cuman jadi bagian kecil dari sebuah foto dan bagian kecil itu nggak terlalu bermakna?”