Semua orang kepingin rumahnya bergaya mimalis. Persis kayak yang di majalah-majalah interior rumah itu. Saya juga. Dan orang-orang sekitar saya pun demikian. Tapi apa daya, keinginan tinggal keinginan. Yang semula sudah niat mau menata rumahnya dengan gaya desain interior rumah minimalis, lama-lama pun berubah jadi gaya maksimalis.
Lifestyle
Bayi Sehat, Rumah Berantakan
Anak saya baru berumur 11 bulan dan tingkahnya mirip Christophorus Columbus. Rumah adalah tempatnya menjelajah dan dia bikin saya selalu telat mandi. Dia belum bisa jalan sendiri, tapi dia merangkak dengan sangat cepat. Kadang-kadang saya takut dia saking begitu keponya, sampai-sampai dia bisa nabrak ujung meja yang tajam, jatuh dari tangga, atau ngemut kabel charger, sehingga waktu saya 24 jam habis cuman buat ngawasin dia.
Badan Fidel, sayangnya nggak sebesar yang diharapkan kurva Denver karena waktu lahir pun bobotnya juga irit. Tinggi badannya di bawah standar populasi normal, berat badannya bikin saya malas pamer-pamer di forum parenting sosial media. Tapi dokter tumbuhkembangnya bilang anak saya sangat pandai. Dia bayi sehat. Kemampuan motoriknya sesuai standar umurnya, kemampuan bicara dan keterampilan interaksi sosialnya melebihi bayi semurnya. Dokternya bolak-balik memperingatkan saya supaya selalu mengawasinya, jangan sampai dia celaka karena dia begitu gesit. Dokternya benar.

Tingkahnya banyak banget dan bikin saya kewalahan.
Saking pinternya bocah ini, dia membuat saya sinting. Mengawasinya 24 jam bikin saya nggak punya me time. Padahal saya merasa harus punya kegiatan sendiri supaya saya tetap waras. Akibatnya saya milih dua-duanya; saya nulis artikel pesanan klien sambil ngawasin Fidel, saya interview narasumber pun sambil ngawasin Fidel, saya ngerjain tiket pesanan customer juga sambil ngawasin Fidel, saya ngawasin pergerakan harga saham pun sambil ngawasin Fidel. Saya bahkan pup sambil bawa stroller ke toilet.
Lalu suatu hari terjadilah ini.
Mereka Menerbitkan Buku: Menulis Kreatif hingga Desain Cover Sendiri
Kepingin menaikkan omzet jualan? Tulislah buku. Kepingin nama lebih tenar? Bikinlah buku. Kepingin bikin curriculum vitae makin kinclong? Bikin saja buku.
Orang yang bisa menjadi penulis dan kreatif menerbitkan buku itu seksi. Sampai-sampai James Altucher, pendiri biro desain Reset dan pengarang Choose Yourself, The Power of No, bahkan bilang di sini bahwa dari sekian banyak pedagang pada suatu komoditas, konsumen mungkin akan lebih memilih pedagang yang pernah menulis buku daripada yang tidak nulis buku. Alasannya, menulis buku (tentang barang dagangannya, tentu) membuat sang pedagang nampak ahli dengan barang tersebut, betul tidak?

Ingat minggu lalu saya bilang bahwa kartu nama kreatif pengusahanya bisa menaikkan penjualan? Saya berubah pikiran, buku lebih menaikkan penjualan. Kata Altucher, kalau Anda ngoceh-ngoceh sebagai pembicara di seminar, lalu khotbah Anda mengundang banyak keprokan, kemudian ada penonton yang menyalami Anda sambil minta kartu nama, maka daripada Anda keluarkan kartu nama, mendingan Anda sodori buku Anda dan bilang, “Ini buku saya. Buat Anda.”