Seorang admin sosmed harus menguasai banyak kanal sekaligus. Gambar diambil dari sini
Kalau Anda menguasai cara nge-twit, cara update status di Facebook, dan cara upload gambar di Instagram, berarti sebetulnya Anda sudah punya modal untuk jadi admin sosmed sebuah brand. Yang perlu Anda kuasai sebetulnya tinggal teknik manajemen waktu aja.
Ketika kafenya Howard Schultz memutuskan untuk membuka cabang di gedung kantor Intiland Tower, saya tepuk tangan. Bukan saja karena Starbucks sudah memilih lokasi yang sustainable untuk mengeruk pasar, tapi karena faktor kesehatan: jaminan bahwa tidak ada lagi karyawan di sana yang kelaparan cuman gegara terlalu sibuk bekerja.
Sebelum membuat penilaian kinerja karyawan, lebih baik evaluasi dulu apakah karyawan ini sudah bahagia dengan apa yang kita fasilitasikan untuk jadi tempat kerja. Gambar diambil dari sini
Persoalannya, para pengusaha setengah mati mencari beribu cara untuk membuat karyawan mereka semangat bekerja. Ketika mereka kecewa lantaran penilaian kinerja karyawan mereka tidak seperti yang diharapkan, mereka sibuk cari-cari alasan, apakah gajinya kurang, atau sistem kerja tidak efisien, dan lain-lain. Tapi jarang sekali yang mengevaluasi,
apakah karyawan itu bahagia bekerja? Paling jawabannya, “Bahagia sih, tapi..” Tapi mungkin sehari-harinya tidak.
Sewaktu saya main ke hutan mangrove di Wonorejo (artikelnya bisa dilihat di sini), saya ketemu beberapa batang pohon bakau dituliskan bahwa pohon-pohon itu ditanam sebagai hasil CSR atas nama bank Anu atau perusahaan Anu. Waktu itu saya bergurau dengan suami saya, ini pasti akal-akalan karyawan perusahaannya, berlagak ngajakin nyalurin dana CSR-nya perusahaan dengan nanam pohon bakau, padahal aslinya karyawannya kepingin piknik bareng sembari dibayarin perusahaan. :-p
Berbahagialah perusahaan-perusahaan yang senang pamer-pamerkan hasil CSR-nya ke media massa, karena ternyata rakyat sangat menyukai perusahaan yang demikian. Saya iseng baca risetnya Nielsen (laporannya bisa diunduh di sini), yang menyurvei penduduk di seluruh dunia tentang bagaimana kesan mereka terhadap perusahaan dari produk atau jasa yang mereka pakai. Ternyata eh ternyata, kalau perusahaannya kedapatan mempunyai tanggung jawab sosial, mereka lebih dicintai oleh para konsumen. 52% responden riset ini bersedia membeli produk/jasa mereka, setidaknya setiap enam bulan sekali. 55% responden malah dengan senang hati mau bayar lebih untuk membeli itu. Ini artinya, kalau saya punya bisnis dan perusahaan saya melakukan CSR, setidaknya separuh penduduk bersedia beli produk saya.