Bocah yang global di sini bukanlah bocah yang pinter ngukur diameter globe di meja belajarnya. Tetapi maksud saya, bocah yang global adalah individu yang bisa supel bergaul dengan bangsa apa saja. Tanpa celingus, tanpa sok pintar, tanpa intoleran, tanpa harus kehilangan jatidirinya sendiri. Dan ternyata, bocah yang begini bisa dibangun dari semenjak masa kanak-kanak.
Laurentina’s Rants
Liburan ke Lombok Lebih Ngirit dan Praktis
Satu hal yang sering makan waktu sewaktu lagi bikin itinerary liburan adalah, kalau habis pesan tiket pesawat online itu masih harus pesan hotel lagi. Atau bingung kalau ingin liburan ke destinasi tertentu, tapi bingung mesti pulang pergi naik pesawat lewat bandara mana.
Biasanya buat pesan tiket pesawat online ini saya mesti browsing-browsing dulu dari satu website penjual tiket ke website tiket lainnya demi cari harga termuah yang paling update. Di tiap website bahkan saya dalamin dulu, apakah website-nya nyediain promo buat harga tiket. Tiket itu biasanya sering promo kalau penerbangannya malem. Atau terbangnya antara Selasa, Rebo, Kamis, atau Jumat. Saya ini pinter kalau nyari-nyari harga promo yang tersembunyi, baik itu promo yang menggunakan kartu kredit tertentu, atau promo yang pakai kode diskon tertentu, atau promo yang hanya berlaku pada jam-jam tertentu.
Setelah dapat harga tiket yang termurah, ritual saya pun ganti menjadi browsing-browsing harga sewa kamar hotel. Browsing a la saya lebih ruwet lagi karena saya mesti sesuaikan filter pencarian hotelnya sesuai selera saya (sediakan sarapan yang reputasinya enak, ada kolam renang buat anak balita, lokasinya strategis, dan syukur-syukur ada servis tambahan selain sewa kamar doang). Termasuk juga apakah ada promo tersembunyi buat harga hotel (saya langganan newsletter dari sekitar 5-7 website pencari hotel, jadi saya tahu mana aja website hotel yang sedang promo minggu ini).
Lantaran ritual dua kali browsing ini, proses perancangan liburan bisa jadi lebih lama. Kadang-kadang browsing harga begini aja bisa makan waktu berhari-hari (apalagi ketika saya lagi browsing, tiba-tiba Fidel malah narik-narik tangan saya ngajak main mobil-mobilan). Sering banget durasi browsing saya justru lebih lama ketimbang jumlah hari liburannya, wkwkwkwk…
Baju Couple Keluarga, Yay or Nay?
Salah satu teman saya punya anak empat orang. Masih kecil-kecil. Kalau dia bawa anaknya jalan-jalan, dia pusing sendiri, soalnya anak-anaknya periang banget, suka lari-lari ke sana kemari. Dia kerepotan ngejar-ngejar mereka satu per satu.
Problem jadi berlipat ganda kalau anak-anaknya itu ketemu teman-teman seumuran mereka. Dia pusing sendiri ngejar-ngejar anaknya, karena sering ketuker sama anak orang lain!
“They look all the same!” cerita teman saya itu waktu curhat sama saya.
Lalu tibalah saatnya foto bareng keluarga besar. You know lah, jenis foto di mana kita foto bareng bude, pakde, opa-oma, sepupu-sepupu bersama anak-anak mereka. Kita rangkul anak kita di dekat kita buat berpose-massal-yang-nanti-kalo-dicetak-pasti-nggak-akan-keliatan-jelas-muka-kita-itu, tapi si kecil malah ngeyel mintak duduk deket sodara-sodara sepupunya yang sama kecilnya juga.
Pada waktu foto dicetak, nanti kan diabsen, mana kita, mana kakak kita, mana ibu kita, mana suami kita, mana anak kita. Kalau pun diabsen dan dijawab ngawur pun nggak ada bedanya, orang nggak peduli mana kita, apalagi yang mana itu anak kita. Kesimpulan dari foto keluarga besar itu selalu sama, “Oh, si Pak/Bu itu sudah punya anak cucu cicit banyak sekali..”
Dan itu membawa kita kepada pertanyaan iseng, “Terus ngapain anak kita dan pasangan kita didandanin baju bagus-bagus kalau ujung-ujungnya cuman jadi bagian kecil dari sebuah foto dan bagian kecil itu nggak terlalu bermakna?”