Saya pernah mengalami fase di mana hasil karya saya ditempel oleh pak guru di tembok kelas. Waktu itu saya nulis cerpen horor di selembar kertas, terus biar secara visual menarik, saya nulis pakai spidol warna-warni. Pak guru saya menempelin cerpen itu di tembok, barengan cerpen horor karya teman-teman saya yang lain.
Sebenarnya menurut saya nempelin cerpen itu nggak menarik ya, kan untuk menikmati cerpen itu ya harus dibaca dengan cermat, bukan memaksa pembacanya melototin tembok. Tapi saya melihat ulah pak guru saya itu dari sudut lain, dia seperti mau bilang, “Ini lho saya menghargai kerja keras kalian.”
***
Sekitar dua tahun lalu, waktu saya main ke rumah kakak saya, saya lihat gambar-gambar hasil coret-coret keponakan saya ditempel di dinding. Sebetulnya menurut saya gambar itu nggak bisa dimengerti maknanya, biasalah imajinasi anak-anak, tapi saya selalu bilang, “Wuaah..bagus gambarmu, Nak. Lho, kok cumak yang ini yang ditempel? Gambarmu yang lain ada di mana?”
Keponakan saya setengah kembang kempis gitu saya puji, dan dengan malu-malu dia bilang bahwa gambar-gambarnya yang lain dia simpen di dalam laci. Nggak ditempel soalnya menurutnya warnanya jelek (padahal kan yang mewarnain ya dia lagi). Waktu itu saya bilang, “Ya sudah, gambar aja lagi yang lain, nanti ditempel lagi di tembok yah?”
Lalu kakak saya pindah rumah, dan semua barang-barang mereka dibawa ke rumah baru. Saat saya sambangin rumah mereka yang sekarang kemaren, saya terhenyak waktu masuk kamar ponakan saya. “Lho, kok temboknya polos? Gambar-gambarmu yang dulu ditempel mana?”
Terus, kata ponakan saya, “Iya, nggak ditempel lagi, Tante. Emang itu eman-eman sih. Tapi kata guru agama, nggak boleh nempel gambar-gambar di tembok soalnya (gambar) itu tempatnya setan..”
Saya terdiam.
***
Dan saya bahkan nggak ngerti di mana segi rasionalnya setan nongkrong di kertas gambar robot-robotan karya anak berumur 5 tahun.
Itu bukan anakku. Itu anak kakakku. Aku tidak berhak mengajarinya.
Tapi jika saya punya anak, saya akan suruh anak saya tempel gambarnya di tembok, sejelek apapun gambarnya, supaya dia belajar menghargai hasil karyanya sendiri. Jika dia bisa menghargai dirinya sendiri, dia akan bisa belajar untuk menghargai orang lain.
Dan soal setan-setanan itu, saya akan berujar, “Nak, bolehlah kamu pasang poster Justin Bieber, tapi janganlah kamu lebih hafal lagunya Justin Bieber daripada bacaan sholat.. Dan tolong, Nak, jangan pasang gambar Rhoma Irama. Karena kalau kamu pasang gambar itu, maka itu namanya.. TERR-LAA-LUU!”
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

I am a content strategist who loves blogging about planning and optimising content for marketing insights. See my profile page to find out more about me. Follow me on LinkedIn and Instagram.
hahahahahaha bagian ujungnya ini kok jdi becanda đŸ™‚
dulu Hani bangga banget tulisan Hani dipajang di dinding mading sekolah, habis itu jadi rajin bikin tulisan đŸ˜€
Ya..dan itu membuat kita jadi punya self-esteem atas diri kita sendiri..tanpa harus bikin kita jadi pemuja setan.
aku juga gak pernah masang gambar ditembok, semuanya aku simpan dengan baik eh maksudnya gambar-gambarnya pascal
Kenapa kok Mbak Lidya yang nyimpen, bukan Pascal yang simpen?
aduh. itu gurunya TERLALUH!!
Akh, saya malah mau kalonanti anak saya pny ruang bermainnya sendiri, danboleh menggambari tembok atau menempeli temboknya dgn hasil karyanya…. đŸ˜€
Saya masih mikir gimana cara bikin ruang bermain buat anak, apakah harus ruang sendiri atau boleh campur sama ruang tidurnya.
gurunya THERLHALUUU
semprot pake baygon
Sediain Baygon-nya..
Hahaha… geli baca yg terakhir…
Wah, kreatifitas itu butuh eksistensi, makanya kampusku sering ngadain pameran setiap semester đŸ˜€
Kampusmu kan memang kampus seni, jadi punya alasan buat pameran..
wah, padahal kalo dipajang kan, si anak merasa diapresiasi. bisa lebih bangga dikit, apalagi kalo dipuji-puji sama tiap yang datang đŸ™‚
Iya..saya juga mikirnya gitu, nggak mikir setan sama sekali..
emang setan suka gambar ya? bingung aku …
endingnya bikin ngakak …
Aku juga bingung..setannya belajar gambar di mana..?
waaaa THERLALU banget guru nya
Waahhh…. padahal kalau aku, tetap aku akan pasang.
Vay biarpun gambarnya masih jelek, tapi dia bangga dan aku juga bangga karena anakku bangga…… memang sih gak semua dipajang karena pasti full dinding. Tp di kantor aku pasang tentu saja…. đŸ™‚
Kantorku kamar operasi. Kalaunaku pasang gambar-gambar di tembok, bisa jadi sumber infeksi.. đŸ˜€
pernah denger istilah gambar atau lukisan gitu, tapi bukan sarang setan deh. Rasanya guru harus menggunakan kata/kalimat yang lebih baik untuk mengajarkan anak didiknya.
kalau aku setuju dengan mbak vicky bahwa yang penting gak meninggalkan ajaran agama, soal lukisan kan itu kesukaan, dan siapa tahu bisa menjadi profesi đŸ˜€
Iya. Memang masang gambar di tembok itu nggak akan meninggalkan ajaran agama kok. Paling-paling ya meninggalkan ajaran guru agamanya.. đŸ˜€
Memang pelajaran agama sebaiknya diajarkan dari kecil (udah ada kok lagu qasidahnya mbak). Jadi gampang mendidiknya. tapi tidak semua gambar kok yang dilarang untuk dipajang (setau saya) cuma yang bernyawa aja. Soalnya bisa bersarang setan seperti kata keponakan mbak hehehe….
Kalo nempelin kata-kata motivasi di tembok boleh kan, ya…. Nggak ditempelin setan kan, ya….