Pilih KlikBCA atau BCA Klikpay untuk Internet Banking?

KlikBCA online travel agent

Sebagai pelaku e-commerce, saya intim banget dengan internet banking. Lebih-lebih dengan internet banking BCA, karena BCA adalah bank pertama yang menjadi tempat saya membuka rekening bank sejak kecil.

Di kalangan aktivis e-commerce, BCA malah sudah menjadi bank sejuta umat. Di Indonesia, hampir semua pelaku e-commerce mayor sepertinya memasang BCA sebagai pintu rekening tujuan dari transfer pembayarannya. Memang beberapa marketplace mengizinkan pembeli membayar melalui bank lain sih, tetapi sepertinya memiliki rekening BCA sebagai rekening tujuan pembayaran online itu adalah option wajib. Lalu saking populernya BCA sebagai sarana pembayaran online, sampai-sampai BCA sendiri punya macam-macam cara pembayaran untuk internet banking; ada via kartu kredit, transfer ke virtual account, transfer KlikBCA, dan BCA Klikpay. Options terakhir ini malah kadang-kadang bikin njelimet kalau tidak pandai mengakalinya.

Dan di artikel ini, saya mau cerita bagaimana saya memilih antara KlikBCA dan BCA Klikpay buat kerjaan e-commerce saya.

Read more

Bisnis Cafe, Pahlawan Ekonomi

Pahlawan adalah sebutan bagi mereka yang berjasa untuk memberikan sesuatu yang berharga. – Anonymous, 2016
Ada suatu masa ketika yang disebut pahlawan adalah serdadu yang berperang dengan alasan mempertahankan kedaulatan suatu bangsa atau suatu wilayah. Karena buat orang-orang tertentu, identitas kebangsaan maupun sekedar patok batas teritori wilayah adalah hal yang berharga untuk dipertahankan.
Di bidang lain, kita mendengar istilah pahlawan tanpa tanda jasa yang sering dilekatkan pada profesi guru. Alasannya, guru memberikan ilmu dan ilmu itu dianggap berharga.
Dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sering dijuluki pahlawan.
Tapi buat saya, gelar pahlawan saya sematkan pada para pemilik bisnis cafe.
Lho, kok bisa?

Read more

Raih Keuntungan Investasi dengan Reksadana Online

Investasi reksadana online

Semenjak saya menulis beberapa bulan lalu bahwa saya mengerjakan investasi reksadana, praktis Whatsapp saya sering dibanjiri pesan dari teman-teman, terutama berisi pertanyaan tentang keuntungan reksadana. Nampaknya publik sepantaran saya sekarang sudah mengerti bahwa perencanaan keuangan itu penting. Dan mengerti itu juga termasuk paham bahwa investasi itu adalah gaya hidup, dan krusial banget buat bikin impian masa depan jadi kenyataan.

Bicara tentang instrumen perencanaan keuangan, sekarang reksadana itu menjadi instrumen yang banyak banget penggemarnya. Tapi, masih banyak kawan yang belum paham tentang gimana caranya buat punya investasi reksadana, dan gimana mengelolanya. Macam-macam deh pertanyaan yang sering saya dengar, misalnya:

1. Di mana bank untuk beli reksadana? -> yang membuat saya paham bahwa sepertinya orang masih menyangka bahwa reksadana itu dibikin oleh bank, mirip deposito

2. Uang saya pas-pasan, berapa modal yang harus saya kumpulkan untuk beli reksadana? -> ini mengingatkan saya pada jaman 5-10 tahun lalu, ketika deposit untuk beli reksadana minimal harus Rp 50 juta. Nggak heran kan kalau orang yang punya investasi reksadana selalu disangka orang kaya?

3. Jenis reksadana jenis apa yang cocok untuk mahasiswa / ibu rumah tangga seperti saya? -> ya ampun, situ mau beli reksadana atau mau beli laptop? Apa hubungan reksadana dengan profesi?

4. Gimana kalau investasi reksadana milik saya malah rugi tanpa saya ketahui, padahal saya tinggal diam-diam aja simpan uangnya di bank? -> sepertinya dia sangka membeli reksadana itu sama seperti membeli saham. Bisa mirip, bisa enggak.

5. Reksadana apa yang cocok kalau saya ingin mengambilnya untuk keperluan mendadak, misalnya kalau ada musibah kecelakaan? -> aduuh..ini sih jangan pakai reksadana dong ah..

dan pertanyaan lain sebagainya. Memang wajar kalau pertanyaan-pertanyaan lugu begini masih sering keluar, karena memang pengetahuan kebanyakan orang tentang perencanaan keuangan, apalagi tentang investasi reksadana, masih sedangkal pesisir pantai Ancol. Ingat kan, kita selalu diajari dari kecil untuk menabung, mengirit, tapi jarang diajarkan kalau tabungan itu nanti sudah banyak, bagaimana memanfaatkannya. Padahal hasil kerja kita yang berupa slip gaji atau transferan proyek itu bisa digunakan untuk rencana kita dalam jangka panjang, misalnya menyekolahkan anak, mengumrohkan pembantu, atau sekedar backpacking ke Korea (kayaknya sudah berkali-kali saya menulis impian saya ini ya, mudah-mudahan Anda belum bosan :-D).

Read more