Ketika banyak merk smartphone cuman memastikan produk telepon mereka dibeli konsumen, dan selanjutnya konsumen dilepas sendiri untuk menggunakan produk mereka tanpa follow up ulang kembali, maka Oppo Indonesia bertindak lain. Semua pembeli smartphone Oppo diundang kembali untuk dihimpun dalam sebuah komunitas online. Di komunitas yang mereka namai Oppo Community ini, para pengguna Oppo pun mereka jadikan simpatisan setia, mereka traktir makan-makan sambil mereka tanyai seberapa puas atau seberapa resenya para pembeli ini menggunakan Oppo. Malah brand community ini nggak cuma menggandeng pembeli Oppo, bahkan para haters-nya Oppo pun ikutan dirangkul.
Vicky Laurentina
Raup Komisi Toko Online Terbesar di Indonesia bersama Kudo
Kalau Anda ingin ikutan mendirikan online shop di Indonesia dan kepingin meraup pangsa pasar yang besar, Anda mungkin sudah melihat bahwa ceruk pasar di Indonesia ini cukup sempit. Penduduk Indonesia yang doyan belanja online nggak sampai 10%, situs jualan online yang besar-besar dikuasai nama itu-itu saja, padahal menurut artikel ini, minat untuk beli barang di internet terus meningkat 20% setiap tahunnya.
Kita mungkin kepingin bisa jualan di Lazada Indonesia misalnya, tetapi terhambat biaya tertentu. Karena seperti halnya aneka situs jualan online besar lainnya di Indonesia, Lazada memasang syarat agar kita membayar sejumlah tertentu supaya boleh berjualan di sana. Padahal situs-situs semacam itu (seperti contohnya fashion online shop Indonesia macam Berrybenka, Hijabenka, Sociolla, dan lain-lain) sudah punya nama yang terkemuka, sehingga telah menjadi penjual terpercaya di kalangan konsumen belanja online di Indonesia.
Mungkin Bukalapak yang sama bekennya pun lebih mudah, karena untuk berjualan di situs jualan online yang satu itu gratis. Tetapi jika kita nggak punya produk yang unik, kita juga sama saja dengan para kompetitor yang sudah berjualan duluan di situs penjualan online terpercaya itu.
Jadi, gimana caranya supaya bisa berwiraswasta dengan menjadi penjual terpercaya, tapi dengan sumber daya yang cukup minim?
DIY: Aneka Resep Masakan Enak a la Restoran
Seperti kamu, saya juga senang makan-makan di restoran. Saya termasuk foodie penyembah makanan enak yang sangat menikmati prosesi di restoran seperti ritual unik: motret makanannya dulu sebelum dimakan, menikmati suap demi suap, dan menutup suapan terakhir sambil mengeluh sedih kenapa kok masakan enak yang barusan saya makan itu cepat habis.
Tapi nggak selalu saya bisa menikmati makanan enak di restoran semau saya. Kalau lagi tanggal tua, saya terpaksa ekstra ngirit lantaran income dari suami saya juga cenderung mepet (suami saya wiraswasta yang dapat rejeki dengan ngerjain proyek-proyek pesanan mitranya). Padahal, saya kan juga kepingin tetap makan yang lezat-lezat?
Saya tahu yang problem begini punya nggak cuman saya. Mungkin Anda juga. Entah bagaimana, tanggal tua selalu identik dengan bokek.
Persoalannya, saya ini smart. *ngetik gini sambil nepuk dada*. *terus batuk-batuk*. Saya nggak rela dipaksa ngirit cuman gara-gara ini tanggal tua. Tanggal itu hanya sebuah angka, kenapa saya harus dipusingkan olehnya? Jadi saya pun putar otak.