Api memercik. Batang-batang pohon bertumbangan. Asap membubung tinggi. Dalam hitungan hari, hutan mulai gundul. Manusia datang, membawa buldozer, meratakan tanah, mengganti pemandangan. Tapi pada saat yang bersamaan, tidak jauh dari sana, penduduk mulai digigiti nyamuk. Tak ada yang menduga, malaria merebak, menyusul penggundulan hutan yang makin massif.
Vicky Laurentina
Ketika Tanda Kolesterol Tinggi Tidak Turun-turun
Begitu ayah saya diberitahu tanda kolesterol tinggi, ibu saya langsung puyeng mengganti menu di rumah. Menu yang di rumah seringnya berupa goreng-gorengan, jadi berubah kegurihannya lantaran ibu saya mengurangi minyak goreng demi ayah saya. Yang tadinya sering beli makan makanan yang enak-enak (dan yang enak itu adalah yang berminyak), jadi jarang.
Sedihnya, ternyata diet rendah kolesterol doang nggak bisa menurunkan kolesterol ayah saya.
Bikin Makanan khas Italia di Rumah
Saya mulai belajar makan makanan khas Italia semenjak 30 tahun yang lalu, ketika pizza masih baru-barunya dijual di Bandung tempat saya tinggal. Waktu itu, restoran kayak warung bergambar atap merah itu belum ada, tapi sudah ada orang berani jual pizza ukuran personal pan melalui mobil caravan nongkrong di Dago. Rasa bumbu paprika yang pungent bikin lidah saya jatuh hati, sehingga semenjak itu saya jadi suka menu-menu yang bau-bau Italia begitu.
Ibu saya mulai belajar masak spaghetti beberapa tahun kemudian. Yang sering dimasaknya, adalah spaghetti bolognese. Ibu saya sampai rajin nyetok 1-2 dus spaghetti di lemari. Bikin stok daging sapi cincang yang udah dibumbuin saus bolognese dan menyimpannya di kulkas, adalah jalan ninjanya kalau sedang tidak kepingin memasak.
Banyak benget masakan Italia yang saya suka, dan saya lumayan familiar dengan cita rasanya yang gurih dan melibatkan banyak rempah-rempah Timur Tengah berbau tajam kayak oregano, basil, dan lain-lain. Posting ini adalah round up tentang menu-menu Italia yang saya sukain. Siapa tau kamu juga suka 1-2 di antaranya?