Piramida Ngumpet di GA4

Salah satu kelemahan GA4 yang semenjak berminggu-minggu ini saya concern adalah: nggak bisa nemuin mana artikel yang dapet traffic piramida.

Kalo saya jadi kordinator kampanye blogger, maka ini cukup meresahkan. Sudah susah mensosialisasikan supaya para bloggers mulai beradaptasi dengan GA4, ini masih ditambah kesusahan memantau bloggers yang main piramida waktu kampanye.

Garis besarnya adalah, blogger kalau lagi kampanye itu punya tugas memastikan artikel endorse-an itu dibaca orang setiap hari. Cuman pada prakteknya, kalau pemimpin kampanye dapet blogger yang males, maka bisa-bisa tuh artikel cuman diterbitin doang tapi nggak ada yang mbaca.

Yang terjadi, biasanya pada menjelang akhir kampanye, tau-tau bloggernya yang kebetulan males itu panik karena traffic menuju artikelnya masih cuman dikit. Maka bloggernya mengerahkan seluruh tetangganya se-RT/RW melalui grup WhatsApp untuk mengklik artikelnya.

Jadi di akhir kampanye, ketika disuruh melaporkan jumlah pageview, akan nampak seolah-olah angka traffic-nya gede. Padahal gedenya itu karena seluruh tetangganya sekampung disuruh ngeklik artikelnya pada hari terakhir kampanye.

Di Google Analytics, ulah deadliner kayak gini sebetulnya bisa dipantau kalau bloggernya disuruh melaporkan hasil pageview-nya dalam bentuk grafik garis. Pada grafik akan kelihatan bentuk piramida.

Di mana pada hari-hari kebanyakan, traffic-nya adem ayem aja seperti gurun pasir yang nggak ada manusianya. Eh eh tiba-tiba pada hari terakhir nongol bangunan piramida yang menandakan terjadi lonjakan traffic. Dan setelah diinterogasi, traffic yang melonjak tersebut ternyata berasal dari direct traffic. Alias dari grup WhatsApp.

Padahal yang diharapkan adalah traffic yang merata dari organic traffic alias dari search engine.

Dan kejadian piramida ini bisa dideteksi dengan mudah…. asalkan bloggernya disuruh melapor pakai Google Analytics versi Universal Analytics.

Tapi kan.. bloggers dan pihak-pihak digital marketing harus belajar soal GA4 karena itu hanya satu-satunya pilihan. (Kalo mau tahu kenapa GA4 hanya jadi satu-satunya pilihan, silakan lihat alasannya di paparan saya ini -> Kesan Saya Setelah Install GA4)

Masalahnya adalah..GA4 ini belum bisa mendeteksi piramida.

Situasi di GA4 itu, grafik default-nya menunjukkan performa semua artikel, bukan satu artikel doang. Artinya sulit buat fokus memantau performa suatu artikel yang lagi jadi kampanye. Blogger yang kudu laporan kampanye cuman baru bisa melapor dalam bentuk tabel doang, tapi grafik trend dari traffic-nya nggak kelihatan. Artinya.. kalo ada yang bikin piramida, sulit ketahuan!

Saya berminggu-minggu penasaran soal ini. Karena saya tau GA4 ini bukannya nggak bisa mendeteksi piramida yang ngumpet. Tapi bisa aja kok, saking aja saya belum tahu celah buat mendapatkan datanya.

Nah, akhirnya saya dapet informasi dari seorang teman. Bisa lho GA4 memantau satu artikel doang dalam bentuk grafik. Sehingga piramidanya ketahuan!

Caranya gini ya..

  1. Siapin dulu URL artikel yang mau dievaluasi traffic-nya.

Lalu, perhatikan bahwa GA4 ini punya menu Acquisition. Dan sub dari menu ini adalah Traffic acquisition.

2. Pilih submenu Traffic acquisition ini.

Berikutnya, perhatikan bahwa grafik yang nampak di halaman Acquisition ini sebenarnya bisa di-filter supaya hanya menampilkan data yang kita inginkan doang, bukan menjembreng data yang value-nya paling tinggi. Kunci untuk nge-filter-nya berada di icons yang berderet di sebelah kanan atas.

3. Pilih icon Edit Comparisons.

Kemudian, GA4 akan nyuruh kita membuat condition. Condition ini istilah untuk filter-nya. Konsep condition adalah menyilakan kita memasukkan filter bernama Dimension yang value-nya kita tentukan sendiri juga. Nah, kalau keperluan kita adalah “ingin memeriksa satu buah artikel saja”, maka setting Condition-nya begini:

4. Pilih Dimension berupa Page path and screen class. Isi kolom Dimension values berupa slug dari URL artikel yang mau diperiksa. Baru tekan Apply.

Contoh slug itu: untuk artikel saya tentang Little Seoul, maka slugnya adalah /little-seoul-bandung-sawunggaling-gegerkalong.

Kalau sudah tekan Apply, maka sampai di sini akan nongol grafik garis yang menunjukkan trend atas traffic untuk artikelnya. 🙂

Memuaskan? Tentu saja tidak.

Soalnya kalau ini terjadi di websitenya para blogger, pasti garis yang nongol minimal ada tiga biji: Garis untuk organic search, garis untuk organic traffic, dan garis untuk direct traffic. (Malah dalam kasus saya, sering nongol garis untuk referral traffic dan organic video.)

Padahal kalau tujuan kampanye blogger ini adalah mencari traffic dari search engine, maka yang dibutuhkan cukup garis untuk organic search doang!

Maka di sinilah perlunya langkah berikut ini:

5. Di kolom Edit Comparisons tadi, bikin condition ke-2, yaitu seperti ini:

Pilih Dimensions berupa Session default channel grouping. Isi kolom dimension values berupa Organic search. Tekan Apply.

Maka akan nongol grafik garis yang menunjukkan trend untuk traffic dari search engine. Insya Allah ini traffic yang paling jujur, bukan traffic dari hasil mengerahkan pasukan WAG se-RT/RW untuk ngeklik link artikel 🙂

Iya, saya tahu artikel ini sungguh membuat para juru kampanye deadliners menjadi jengkel, hahahahaha!

Vicky Laurentina X klinik kecantikan Zap Premiere Tunjungan Plaza

Vicky Laurentina adalah food blogger, sekaligus dokter dan ibu dari seorang anak.
Follow Vicky di Instagram/Twitter @vickylaurentina.

Share yuk ke orang lain!

6 comments

  1. Sarieffe says:

    Kalau saja brand ngasih kesempatan 1-2 bulan pelaporan, mungkin grafiknya akan beda karena blogger punya kesempatan optimasi dengan lebih tenang ketimbang buru-buru BW on artikelnya yang mana justru banyakin artikel lari ke eksternal link yang gak perlu. Iya sih, secara page authority akan tinggi jika di BWin karena artinya engangement alias interaksi tulisannya bagus tapi bukan dari hasil organik. Aku mau coba praktekin ini ke salah satu tulisan nonpaidku yang baru. Thankyou mba Vicky

    1. Vicky Laurentina ( User Karma: 0 ) says:

      Sebab banyak brand masih salah paham. Mereka sangka blog itu bentuk social media juga, yang hasil insight-nya bisa dianalisis hanya dalam waktu singkat.
      Padahal kan bukan.

      Semoga membantu, hihihi..

  2. Ada yang merasa ini menjengkelkan. Tapi buat yang mau belajar, artikel ini menyenangkan. Kita jadi merasa harus belajar gimana biar artikel sponsored itu bisa nangkring bagus di ranknya mesin penelusuran. Akhirnya, kita nggak repot minta tetangga se RT/RW buat klik artikel sponsored itu. Dan yang paling bagus, itu piramida nggak nongol lagi di analitiknya kita. Memang sih piramida itu bagus. Tapi kalau ada di Negaranya sana. Hehehehe….

Tinggalkan komentar