Persaingan susu formula semakin ketat. Merk susu formula semakin beragam, seiring dengan makin masifnya kepanikan para emak ketika anaknya nggak mencapai level tumbuh dan level kepintaran yang mereka cita-citakan. Pabrik susu pun nggak kurang akal, promosi susu nggak berhenti di level SPG-SPG di supermarket, dan mereka pun menjual susu dalam bentuk lain: sebuah taman permainan anak.
Lifestyle
Vanilla sebagai Cara Menghilangkan Stress
Kebanyakan orang menyebut bahwa cara menghilangkan stress antara lain adalah dengan istirahat. Pada prakteknya sebetulnya istirahat demi mengatasi stress itu cuman gampang diucapkan di mulut tapi sulit dilakukan, apalagi kalau yang istirahat itu cuma badannya, bukan otaknya, ya toh? Karena apa gunanya selonjoran di sofanya Ligna jika pikiran masih melayang-layang ke sumber stress? Maka kali ini saya kepingin menulis tentang salah satu metode menghilangkan stress dengan bahan berupa vanilla. Huh, ini maksudnya apa, makan es krim vanilla, gitu?
No, no, no..kali ini saya libur dulu, tidak ngomong-ngomong soal es krim vanilla. (Meskipun saya nggak nolak fakta bahwa satu cup es krim vanila itu cukup bisa menghilangkan kepusingan kepala ini hanya dalam beberapa menit. Iya, beberapa menit, karena setelah es krimnya habis, stressnya datang lagi karena kepingin es krim vanilla lagi.)

Gambar diambil dari sini
Tetapi yang mau saya ocehkan sekarang adalah penggunaan vanilla sebagai wangi-wangian untuk mengatasi stress. Lha bagaimana sebuah harum-haruman yang mengajak lapar bisa bikin stress jadi hilang? Tentu saja bisa dong. In fact, nggak cuma vanilla doang yang bisa mengusir stress, tapi juga beberapa harum-haruman lainnya yang akan saya ceritakan belakangan.
FYI, stress adalah tanda bahwa kinerja otak kita sedang terganggu. Kalau kita stress, fungsi otak kita untuk berpikir akan jadi melambat lantaran saraf-saraf di kepala kita tidak bisa menyambung-nyambungkan fakta dengan baik (kami para dokter menyebutnya fungsi kognitif. Masyarakat yang awam menyebut kemampuan menyambungkan fakta ini dengan kata yang lebih simpel: pandai.) Pasalnya, stress itu sendiri memicu sitokin, suatu substansi kimiawi yang bisa bikin peradangan, di seluruh tubuh kita. Termasuk jika radang ini timbul di otak, maka kinerja otak jadi melambat. Ini yang membikin orang stress mana pun jadi bego.
Ikutan Indonesia Mengajar sambil Belanja Lebaran
Lebaran tinggal tujuh hari lagi dan beberapa hari terakhir saya disibukkan dengan keruwetan milih baju Lebaran keluarga saya. Ini adalah Lebaran pertama kami bisa tampil rada eksis legaan dikit. Sebab anak saya, Fidel sudah berumur setahun sekarang, that means saya bisa rada mulai kayak emak-emak gengges yang pamerin dia ke sodara-sodara dengan penampakannya yang lucu menggemaskan dan lincah merangkak ke sana kemari dalam balutan busana Lebaran (bandingkan dengan Lebaran tahun lalu, sewaktu dia baru berumur dua bulan, dan kerjaannya cuman tidur-nyusu-tidur-nyusu doang. Kapan berisiknya bayi ini? :-p)
Makanya saya kepingin menikmati saat ini ketika saya mulai bisa mendandani anak saya dengan baju Lebaran, biarpun kayaknya masih susah buat nyariin baju koko untuk bocah yang bahkan belum bisa berdiri tegak, hahaha.. Lha abis kalau saya pergi ke toko-toko yang menjual model gamis terbaru dan melontarkan pertanyaan aneh “Pak, ada baju koko buat anak-anak nggak?” sambil nunjukin bocah dalam gendongan, entah gimana saya selalu dapat jawaban gelengan malas dari penjualnya.
Si bayi baru gede rada susah dapet baju lebaran, sementara saya dan suami malah lebih ribet. Pasalnya di keluarga kami, Lebaran nggak cuman satu hari, tapi bisa berhari-hari lantaran setiap hari adalah libur dan kegiatannya adalah silaturahmi sana-sini (ya iyalaah..semua orang Indonesia juga gitu, kali..)
Bahkan setelah musim liburan sudah selesai dan semua orang sudah balik dari lokasi mudiknya masing-masing, Lebaran masih berlanjut karena pasti ada undangan halal-bil-hala(h) dari grup ini komunitas itu. Gini nih risikonya kalau kami punya banyak kegiatan di society yang beda-beda, undangan pasti banjir dari sana-sini. Bagian yang paling saya concern adalah tiap undangan pasti ada foto-foto, efeknya nanti pasti ada tag-tagan foto di socmed. Lha gimana coba kalau di tiap event kami pakai model baju yang itu-itu terus? Kalau gitu, berapa long dress yang harus saya beli supaya di tiap foto bajunya beda-beda?
Makanya bajunya mesti ganti-ganti di setiap acara silaturahmi. Ngerti kan sekarang kenapa orang selalu borong banyak model baju gamis dan kaftan kalau beli baju lebaran? Karena lebaran itu panjang, acaranya banyak, jadi butuh bajunya juga banyak, hahahaha..