Hotel di Kuta Bali Bintang 3 Ini Dekat Airport

kamar hotel backpacker

Kalau mau cari boutique hotel di Bali itu gampang banget. Hampir semua penduduk Bali sadar wisata, sehingga mereka ramai-ramai menyewakan properti mereka buat dijadikan hotel. Tanpa takut kehilangan identitas Bali-nya, tentu saja, sehingga hampir semua hotel didekor dengan nuansa Bali yang kental. Alhasil, di tiap jengkal tanah Bali pasti mudah menemukan boutique hotel khas Bali, tinggal cari saja lokasi yang kita suka.

Bicara soal lokasi, daerah Kuta Bali menjadi lokasi yang super padat saat ini. Daerah di sebelah selatan Bali ini hampir selalu M-A-C-E-T. Ketika saya dapet kesempatan bulan lalu untuk mencoba sebuah boutique hotel di Bali, saya tidak berharap banyak ketika undangan yang saya terima mengajak saya menginap persis di Jalan Raya Kuta. Sebagai pelancong yang rutin ke Bali saban liburan, saya sudah hafal sepanjang jalan yang satu itu selalu menampilkan warna merah di jalur Google Maps. Saya mbatin, untung nginepnya cuman semalem, jadi cukuplah ogut ngincip tidur di sini. Kalau kelamaan nginepnya, bisa-bisa saya mati gaya tiduran di hotel melulu lantaran terperangkap macet.

Tetapi ternyata..saya salah.

bangunan hotel di Bali Vicky Laurentina
Pemandangan bangunan Hotel Hadi Poetra dari balkon kamar saya

Perasaan hotel-trapped bahkan sudah hilang ketika pertama kali saya turun dari mobil dan tiba di lobby hotel bintang tiga ini. Hotelnya berupa gedung berlantai lima dengan lobby yang interiornya ditata dengan nuansa Bali yang ciamik. Pelayan-pelayannya menyambut saya dengan ramah, tanpa style nangkupin tangan di dada seperti yang biasa saya lihat di hotel-hotel rantai itu, seolah-olah seperti saya baru pergi dari situ kemaren sore. Saya cuman dimintain pinjem KTP untuk mereka cocokin dengan database booking mereka, lalu tiba-tiba koper saya sudah dijinjing ke lift yang menuju kamar saya. Lhoo..padahal saya masih keasyikan ngeliatin kolam renang yang langsung nampak dari lobby.

Read more

Liburan ke Ubud = Keliling Seluruh Indonesia

Kenapa turis-turis dari luar negeri bisa sampai betah berhari-hari di Bali, terutama di Ubud? Saya rasa, mungkin karena melihat Ubud berasa mirip tinggal di tanah aslinya Indonesia.

Maksud saya, kalau dibandingkan dengan Kuta saja, meskipun sebetulnya sama-sama masih di Bali, tetapi berada di pantai Kuta lebih terasa mirip berada di Hawaii, hang out di Kuta Square serasa lagi nongkrong di Singapore, dan macet di Jalan Legian serasa lagi macet di Jakarta, wkwkwk.. Tapi Ubud? Bangun pagi di Ubud masih mencium hawa yang segar, mungkin karena lokasinya yang masih di daerah persawahan. Adat dan budaya Bali masih dipertahankan oleh kebanyakan penduduk lokalnya, masih banyak penduduk yang mempertahankan bentuk rumah adat Bali-nya yang berupa wantilan-wantilan itu, dan ini yang membuat Ubud menjadi desa Bali kuno yang nampak eksotik bagi turis-turis dari luar negeri.

Wisata di Ubud nggak perlu lama-lama. Menginap dua malam aja sebetulnya udah cukup. Kecuali kalau kita memang fans berat kesenian dan kebudayaan Bali. Soalnya di Ubud, rasanya hampir di tiap gang ada aja penduduk yang menyulap rumahnya jadi tempat jualan lukisan atau patung bikinannya sendiri. Di tiap jalan pasti ada galeri, di tiap kilometer pasti ada museum yang isinya lukisan plus patung melulu. Plus lagi, kehidupan malam untuk acara seni budaya Bali ini jalan terus. Di pura-pura tertentu, saban malam mesti ada show tarian adat Bali, yang digilir mulai dari Barong, Legong, Pendet sampai Kecak. Saya sampai kepo, apa nggak capek ya penarinya tiap malam menari terus?
(Kalau lagi capek, apakah penarinya ngambil cuti? Kalau cuti, apakah penarinya pergi berlibur? Kalau penarinya liburan, liburan ke mana? Mosok liburannya ke Bali??)

Read more

Wisata Anak Mesti Sarat Edukasi

Wisata anak edukasi

Salah satu kenangan saya tentang masa kecil adalah saya sering diajak jalan-jalan keluar kota oleh orang tua saya. Ayah saya hobi nyetir jarak jauh, dan salah satu tempat kesukaannya untuk mengajak saya adalah rumah kakaknya. Waktu itu, kami tinggal di Surabaya, dan di waktu weekend kami sering bermobil ke rumah Tante saya yang bernama Tutie itu di Semarang. Perjalanan Surabaya-Semarang terasa jauh banget, kadang-kadang bisa sampai delapan jam. Untuk mengisi waktu, ayah saya ngajarin saya kota-kota apa aja yang kami lewatin. Saya hafal lho, bahwa dari Surabaya ke Semarang itu kami harus lewat Gresik, Lamongan, Babat, Tuban, Rembangan, Juwono, Pati, Kudus, Demak secara berturut-turut. Umur saya empat tahun waktu itu, saya belum tahu bahwa di dunia ini ada buku bernama atlas, tapi ayah saya sudah menyediakan pelajaran geografi yang sangat berguna buat saya. Sampai hari ini saya masih hafal jalur Surabaya-Semarang tanpa harus lihat Google Maps.

Sekitar beberapa waktu yang lalu salah satu sanak saudara saya mengajak anaknya yang baru berumur sembilan tahun piknik ke luar negeri. Pulang-pulang dari sana wajahnya sumringah banget. Saya tahu sih mereka bersenang-senang, kelihatan kok dari foto-fotonya di Path. Lalu saya iseng mengajak ngobrol anaknya itu, “Kamu selama di sana, ke mana aja?”
Ajaibnya, si anak njawab, “Ngg..aku lupa.”

Saya tercengang.
Saya iseng memancingnya lagi dengan pertanyaan “Kamu foto di mana itu yang sama Obama?”
Si anak inget bahwa dia foto-fotoan sama patung Obama di Museum, tapi dia lupa nama museumnya, dia bahkan lupa Museum itu ada di kota mana. Wah.
Ketika saya tanya selama di sana dia makan apa, si anak pun menjawab, “Chicken nugget.”

Oke, itu piknik yang sangat tidak menarik buat si anak.

Read more