Jadi Pembicara yang Niat

Soalnya sudah terbiasa lihat saya yang kalo jadi pembicara itu hebohnya dari berhari-hari sebelumnya. Jadi ketika suatu hari suami saya lihat pembicara webinar yang tampil terlalu apa adanya, dia jadi bengong.

Suami saya malam ini menghadiri webinar fotografi. Topiknya tentang foto produk.

Pembicaranya ngoceh tentang gears yang dia pake kalo lagi moto produk. Pakai lampu sorot ini, payung itu. Background ini, blower itu.

Tapi suami saya bingung. Soalnya, sang pembicara itu sendiri, waktu lagi ngoceh di layar Zoom, nggak pakai lampu.

Suami saya terus cerita ke saya. Inget nggak, awal-awal saya jadi pembicara online, persiapannya heboh nian.

Pertama, beli lampu (karena di rumah cuma punya ringlight yang dijepit di handphone). Karena lampu sorot terlalu mahal, maka beli lampu belajar.

Ternyata lampu belajar itu, kalo nggak pake kabel, cuma tahan terang 30 menit. Padahal ternyata saya nyap-nyap di depan kamera itu bisa sampai 1 jam lebih.

Terus jadi beli kabel olor.. demi ngidupin lampu sampai 2 jam. (Di sini saya belajar ngajar kelas online dengan efisien dalam 2 jam aja. Soalnya setelah 2 jam, lampunya jadi redup euy..)

Pandemi terus berlangsung, dan webinar makin sering di mana-mana. Demand akan lampu sorot jadi tinggi, lama-lama nongol lampu sorot yang harganya Rp 100 ribuan doang. Saya beli dong, buat jadi lampu sampingan selain lampu belajar. Dan tetep kelemahannya itu, kabelnya pendek!

Jadi kalo mau jadi pembicara webinar tuh, saya heboh setting lampu-lampu dan kabel olor..

Belom lagi urusan bahwa saya kan berbicara dari rumah, bukan dari studio tv. Rumah saya itu nggak estetik-estetik blas, soalnya di mana-mana banyak mainan anak saya yang udah susah dilokalisasi (baca: diberesin). Belum lagi interior tataan mertua saya yang nggak matching sama style webinar saya.

Makanya saya sampai belain beli green screen. Green screen itu bukan dari PVC ya, soalnya PVC itu kan mesti pakai stand minimal 2 biji biar stabil. Kalo beli stand 2 biji, itu bisa buat bayar SPP TK anak saya sampai 3 bulan.

Jadi saya akalin pakai green screen dari kain. Beli di toko kain di Pucang. Kata mbak yang jual tokonya, “Ooh ini kain buat background Zoom..”

Tapi ya biar gitu, saya selalu bersikeras tampil paripurna kalo jadi pembicara webinar. Minimal ada lampu sorot, dan background webinar saya bukanlah anak saya yang lagi buka kulkas ngambil persediaan coklat..

Jadi ketika suami saya menyimak fotografer produk lagi ngoceh tentang lampu-lampu canggih yang dipake oleh si fotografer, suami saya malah mengerutkan kening. Soalnya, di layar si fotografer di Zoom, lighting-nya sendiri brightness-nya kurang, background-nya adalah interior rumahnya yang nggak cocok masuk majalah arsitektur. Apakah lampu-lampu canggih itu nggak dipake buat mark up pembicaranya selama webinar?

Saya cuman cengar-cengir. “Yaa.. mungkin lampunya lagi dipake anaknya buat sekolah online..” padahal webinarnya jam 8 malem.

Pokoknya yah, kalo mau kelihatan profesional, tip ampuhnya satu ini..

..selalu konsisten dengan apa yang kau ajarkan. Termasuk konsisten dalam pembawaanmu selama mengajar.

18 thoughts on “Jadi Pembicara yang Niat”

  1. Harga kainnya berapaan, Kak Vicky?

    Di rumah bikin ruang studio sendiri khusus untuk sesi zoom apa manfaatin 1 pojok khusus?

    Oh ya adakah tips agar jadi pembicara di zoom dgn lancar tanpa grogi?

    Reply
  2. Hihih jadinya garing ya Mbak si pembicara zoom yang dihadiri oleh suaminya Mbak, karena apa yang disampaikannya tidak seperti kenyataan.
    Betul banget itu, kalau mau ngajarin orang A ya kita pun juga bisa lakukan A itu bukan teori doang ya.

    Reply
  3. Emang riwueh banget padahal persiapan online meeting itu. Kami di markas semenjak pandemi bikin studio kecil untuk kegiatan-kegiatan zoom dan streaming lainnya. Samaan mulai beli lampu-lampu, kabel colokan, green screen, mic wireless, kamera, tripod, dan sejumlah perangkat lainnya. Jadi kalau mau ada acara, tinggal ‘on off’ aja, nggak prepare set lagi.

    But, moral story-nya memang terkadang kita bisa ‘ngebusa’ ngomong ini itu ke orang lain, tapi kita sendiri nggak melakukannnya. Sama lah si pembicara fotografi itu, dengan blogger yang sering sat set sat set ngisi webinar tips menang lomba tapi BW selalu telat. Haha *maaf berbau curhat*

    Reply
    • Adeuh, seneng banget kalo situasi ruangan udah siap peralatan webinar, tinggal on off doang. Di rumah saya, yang begini ini cuman ruang kerja mertua saya, karena mertua saya dosen yang sering menyampaikan kuliah online.

      Reply
    • Hahahaa.. Aku juga kalau mau nonton webinar untuk blogger itu lihat-lihat pembicaranya dulu. Kalau pembicaranya sering nggak profesional, aku juga males ikutan webinarnya.

      Berasa aneh aja lihat pembicara berpura-pura profesional, padahal kelakuan sehari-hari masih amatiran (ya kayak BW telat itu contohnya..)

      Reply
  4. wah iya banget nih, pencahayaan ini kudu jadi fokus juga kalau ada webinar gitu, selain sinyal tentunya. Aku sendiri pernah pernah diminta jadi host persiapannya mayan lama juga, gegara pencahayaan yang nggak ok . padahal kita sendiri jadi semangat dan suka ya kalau pembicaranya ready banget, bahkan dgn penampilan rapi gitu.

    Reply
  5. Ini bisa jadi masukan yang baik bagi si pembicara.
    Aku kalo fotografi, ingetnya Bang Darwis aja. Rasanya kalo ngajarin santuy dan gak pakai bahasa yang bikin peserta “Apa sih?”
    Ini salah sat dari hikmah pandemi yaa, kak Vick.. Jadi yang mau belajar, bisa banyak kelas webinar dan yang pengalamannya sudah jauh lebih kece, bisa berbagi.

    MashaAllah~

    Reply
    • Pak Darwis kan lihat-lihat juga kalo ngajarin orang. Kalo penontonnya awam, dia pakai istilah yang gampang dimengerti.
      Tapi kalo penontonnya bukan tipe plonga-plongo, dia pakai istilah yang lebih segmented, hahahaa..

      Reply
  6. Saya belum pernah jadi pembicara euy, seringnya jadi peserta. Tapi saya bisa bayangin jadi pembicara itu persiapannya memang kudu matang yaa, selain persiapan materi, persiapan teknis juga sangat penting, apalagi bila seminarnya dilakukan secara online

    Reply
    • Kapan-kapan Ira pasti juga akan dapat giliran jadi pembicara online. Minimal jadi moderator atau jadi pembawa acara di kantor.
      Sebab makin ke sini, konferensi online makin sering diadakan.

      Reply
  7. Wahhh setuju banget sih Bu Vicky, orang bakal keliatan aslinya dari hal-hal kecil seperti itu sebenarnya. Pernah banget sih kayak gitu, mana eventnya berbayar lagi, nyesel pake banget sih. Tapi yaa yaudahlah, udah terlanjut ikut acaranya juga, jadi sadar lah orangnya seperti apa. Harusnya apa yang diomong itu bisa diterapkan di setiap aktivitasnya.

    Reply
    • Wah, kalau event-nya udah berbayar, tapi pembicaranya masih tampil kurang optimal, ya nyebelin juga sih itu.

      Jadinya males kalo dateng ke webinar dan ternyata yang ngomong itu dos-q ya..

      Reply

Leave a Comment