Suatu malam dalam suatu obrolan di Instagram Live, Anasta Rahmat pernah nanya sama saya bagaimana saya bisa mempertahankan pengunjung blog sampai bertahun-tahun. Terus saya jawab, “..itulah gunanya kolom komentar. Saya berteman sama orang-orang yang komen di blog saya.”
Content Analytic
I always tracking results of contents that I published. This category shows you what’s actually working for me versus what you think is working. This is where I learn to read the signals my content sends back, split into three practical subcategories.
Toolkit
Measurement software turns invisible actions into visible data. Google Analytics and Google Search Console capture different slices of the puzzle. Installing them takes minutes, lead me to understand what they’re telling me takes practice. Dashboards consolidate everything, automation handles the tedious counting while I focus on interpretation.
Metrics
Numbers only deserve our attention when a page view continues to a lead. Conversion rates matter because they prove persuasion. Engagement depth shows whether people skim or actually absorb our words. Return visits signal I’ve built something worth coming back to. I choose indicators that directly connect to my goals.
DA, PA, dan Tukang Daging
Ada dua macam penjual iga. Penjual pertama jualan iga di pasar, harganya Rp 95.000 per kilogram. Penjual kedua jualan iga di butchery, harganya Rp 160.000 per kilogram.
Iga yang dijual di butchery, lemaknya dikiiit banget. Penjualnya nggak mau jualan iga yang banyak lemaknya. Soalnya konsumen dia itu, orangnya yang sadar kesehatan. Nggak mau iga yang ada lemaknya, karena takut jadi sakit jantung.
Iga yang dijual di pasar, dijualnya jauh lebih murah. Penjualnya nggak mau jual tinggi-tinggi, karena dia lihat konsumennya kebanyakan cari iga yang murah. Bagi konsumennya, banyak lemaknya nggak apa-apa, pokoknya murah.
Demikian juga agensi marketing. Ada agensi yang jualan blog partnership pakai DA/PA. Partnership yang DA-nya tinggi, dihargain mahal. Partnership yang DA-nya rendah, dihargain murah.
Pengunjung Blogmu Kebanyakan dari Mana?
“Kenapa kalo saya gak blogwalking, terus view blog saya jadi pada turun?!” jerit temen-temen saya yang sesama ngeblog.
Saya meneng-meneng bae, soalnya saya tahu bahwa temen-temen saya yang pada complain itu mengandalkan traffic blognya dari blogwalking di grup WA.
Tapi pagi ini, temen saya, Ilman Akbar, minta saya kasih tau caranya bikin report tentang persentase kontribusi masing-masing channel terhadap traffic dari suatu website. Dan report-nya kudu dibikin pakai Google Analytics 4.