Memahami SCALECON untuk Bisnis Modern

Home | Content Marketing Insights | Skills Development | Memahami SCALECON untuk Bisnis Modern

Kalangan pekerja marketing sekarang menghadapi tekanan baru, yaitu membuktikan bagaimana artificial intelligence (AI) bisa membuat tempat kerjanya lebih dikenal dan menaikkan pendapatan kantornya. Makanya dihelatlah SCALECON pada 9 Mei 2026 lalu di Surabaya, sebagai suatu event bertemakan implementasi teknologi AI untuk keperluan bisnis. Diskusinya pun luas, mulai dari infrastruktur sampai alur kerja operasional yang sudah terbukti bantuin efisiensi perusahaan. 

Bahasan di SCALECON yang saya hadiri ini nyeritain bahwa banyak pengusaha (dan sepertinya pesertanya juga) sudah cukup akrab dengan alat-alat AI. Sebagian dari mereka sudah ngalokasiin biaya untuk AI, tapi penggunaannya baru sebatas level individu doang, misalnya buat gantiin googling atau bantu ngerancang draft kerjaan sehari-hari. Ternyata, masalah mereka adalah mereka belum siap ngoperasiin bisnisnya makai AI (termasuk juga untuk urusan marketing), sehingga tetep aja kerja perusahaannya masih makan waktu (dan biaya).

Mengapa SCALECON Relevan untuk Bisnis 

SCALECON lebih mirip event di mana para panglima bisnis bicara soal urusan operasional, yang bisa bikin implementasi AI di perusahaan-perusahaan jadi lancar atau malah mandek. Macem-macemlah yang dibahas dan berkaitan sama AI, dari kesiapan infrastruktur perusahaan, sampai cara tim mengelola alur kerjanya sehari-hari. Makanya nggak heran kalau event ini jadi diminatin sama perusahaan yang lagi berusaha memakai AI demi naikin pendapatannya.

Edy Budiman, misalnya, pembicara yang juga memimpin perusahaan cloud hosting, kasih tahu bahwa mestinya AI itu nggak hanya dipakai di level-level aplikasi dan AI model, tapi juga di level infrastruktur. Dari pidatonya, saya di bangku penonton narik kesimpulan, kalau banyak bisnis sudah pakai AI (yang mungkin kerjaannya lumayan berat ketimbang sekadar ng-attach PDF 30 MB, kalau saya boleh kasih contoh). Tapi ternyata mesin operasional di belakang bisnisnya itu belum cukup buat nopang proses kerjanya yang berat itu.

Pak Edy juga ngutip simpulan yang sama dari laporan sebuah perusahaan teknologi informasi tahun lalu,

44% say IT infrastructure constraints are the top barrier to expanding AI initiatives. (Flexential, 2025).

Angka ini tentu rasional dong buat ritme kerja marketing masa kini. Anda yang biasa bikin kampanye digital aja nih tentu butuh pemrosesan data yang cepet, dari platform satu ke platform lainnya kudu sinkron, dan distribusi asetnya juga mesti gesit. Lha kalau fondasi infrastrukturnya aja masih lelet, maka alur kerja AI di level operasional juga ikutan tersendat-sendat.

Pembicara lainnya, Reynold Wang, bikin bahasan SCALECON jadi luas lantaran ngomongin sisi adopsi AI dalam kultur kerja perusahaan. Menurut pemimpin bisnis teknologi ini, banyak company yang udah mengimplementasikan AI, tapi AI-nya baru jadi temen ngobrol doang. Padahal, seharusnya kan AI-nya jadi bagian dari sistem kerja itu sendiri.

Reynold juga pasang argumen kalau kualitas manusia dalam tim yang menggunakan AI pun ikut nentuin dampak AI-nya. Kalau tim manusia itu sudah punya keterampilan teknis dan punya kemampuan bisnis, ternyata AI memang dorong produktivitasnya gede banget. Tapi kalau timnya masih baru belajaran, penggunaan AI justru nggak akan bantu-bantu banget.

Related-kah ini dengan tekanan kerja Anda sekarang? Bayangin kepala marketing di kantor sudah ngebet pakai tool AI buat bikin campaign. Tapi paham audiensnya pun belum, bikin dashboard untuk reporting aja masih tergagap-gagap, kan susah juga kalau mau delegasiin tugasnya ke AI.

Sementara itu, Michael Wongso, pembicara lainnya yang ngomando suatu perusahaan AI agent, nge-highlight carut-marut pengelolaan data di perusahaan. Dia itu mengamati kalau dalam perusahaan-perusahaan itu, antar departemen sering lempar-lemparan tanggung jawab ngelola data. Biasanya ya karena masing-masing departemen itu merasa pekerjaannya itu bukan wilayahnya. Nampaknya ini juga yang bikin data perusahaan itu jadi tersebar ke mana-mana.

Saya jadi kepikiran, mungkin situasi begini yang akhirnya bikin insight bisnis AI nggak cukup akurat. Sebab AI bekerja pakai data, yang kalau datanya nggak rapi, maka jawaban dari AI juga bakalan nggak sesuai arah yang kita mau. Kalau di level bisnis pun datanya nggak terstruktur, terus AI-nya disuruh kasih rekomendasi yang misleading, kan berabe juga buat bikin keputusannya.

Bagaimana SCALECON Membahas Persaingan Bisnis untuk Visibility

Topik marketing jadi tersentuh ketika bahasan masuk ke urusan visibility. Moderatornya SCALECON sempat ngangkat keraguan banyak bisnis bahwa masarin bisnis dengan optimisasi untuk audiensnya search engine (SEO) bakalan bikin boncos semenjak orang-orang pakai AI, lantaran traffic-nya yang (sekilas) nampak fluktuatif. Untungnya keraguan ini dijawab di talk show-nya oleh Andhika Kurniawan, seorang pemilik agensi SEO yang didapuk jadi narasumber.

Memang sih, website yang dirawat dengan cara SEO itu traffic-nya mungkin naik-turun. Tapi naik-turunnya itu dalam jangka pendek, sedangkan untuk jangka panjang itu traffic-nya nambah terus. Kalau semenjak AI ngetren itu website-website-nya pada keilangan traffic, itu karena memang struktur halamannya udah berantakan sejak sebelum hype-nya AI.

Cara Pembicara SCALECON Melihat Visibility Bisnis

Perspektif anyar pun nongol di acara SCALECON tentang cara membangun visibility buat bisnis. Ada hal-hal lain yang menentukan visibility itu, seperti kualitas struktur informasi dan pemahaman tim marketing-nya tentang audiens yang mau mereka targetin.

Sayangnya sebagian bisnis mungkin belum punya framework yang pas untuk memenuhi standar tertentu untuk bisa direkomendasikan di sistem pencarian AI.

Ryan Mulyono, pemilik agensi digital marketing yang ikutan dapet session berbicara, kasih framework yang tegas untuk bikin marketing-nya bisnis jadi moncer.

Terdapat 3 hal yang membuat suatu brand lebih mudah diingat orang.

  1. Site audit. Waktu mengevaluasi aset digitalnya, banyak aspek yang perlu diulik, termasuk apakah kode aset website-nya sudah dioptimisasi dan dilakukan schema markup. Schema markup ini berfungsi sebagai kode tambahan yang nolongin kontennya website tersebut supaya lebih gampang diinterpretasikan oleh mesin, termasuk mesinnya AI.
  2. Expert content. Konten di dalam aset digitalnya itu perlu diatur supaya menunjukkan kepakaran perusahaan tersebut, sehingga perusahaan itu juga gampang dipercaya dan direkomendasikan AI.
  3. Outreach campaign. Ini semacam aktivitas untuk menunjukkan keberadaan brand dari bisnis tersebut, tapi aktivitasnya dilakukan di  aset yang bukan milik sang bisnis.

(Banyak sharing di sosial media yang profesional itu sebenarnya termasuk outreach campaign, menurut saya sih.)

Beda lagi pendekatan yang dilakukan Reza Putra, yang ikut jadi pembicara dan sudah banyak ngurusin SEO-nya brand-brand besar dalam puluhan tahun terakhir. Pendekatannya untuk SEO itu melalui jalur psikologi audiens, yaitu membangun konsumen sintetis, tapi konsumennya ini dibangun menggunakan AI. Dengan cara ini, ia dapat simulasi atas target audiensnya, terutama pada aspek perilaku dan pertanyaan yang dikeluarin sang konsumen sebelum membeli layanan dari bisnis itu.

Metodenya sendiri lumayan sistematis. Dari catetan saya mendengarkan Reza, kira-kira beginilah saya memetakan metodenya dalam bentuk tabel:

LangkahAktivitas
Temukan dataKumpulkan data tentang konsumen sintetis yang dibangun menggunakan AI
Tarik polaAnalisis data untuk mengeluarkan pola perilaku konsumen dan kecenderungan keputusannya untuk membeli sesuatu
Simulasi percakapanLakukan simulasi percakapan dengan konsumen sintetis tersebut, untuk menggambarkan interaksi antara bisnis dengan audiensnya
WawancaraGali pertanyaan emosional yang sebenarnya ada di benak audiens

Dampak SCALECON untuk Strategi Konten 

Schema markup yang dibicarakan Ryan tadi banyak jadi bahan kontemplasi penonton SCALECON yang berasal dari kalangan SEO specialist. Setelah beberapa tahun terabaikan, kode-kode ini kembali diulik lagi lantaran perannya yang makin strategis: bikin konten lebih mudah dipahami mesin AI.

AI bikin mindset mereka yang sebelumnya membuat konten bisa dibaca oleh mesin, menjadi lebih sophisticated (saya nggak mau nyebut kata “rumit”) dengan membuat konten bisa dimengerti oleh mesin.

Paparannya Reza tentang konsumen sintetis juga nambahin ide yang lain: gimana memahami audiens supaya mau berinteraksi dengan (konten) bisnis kita atas dasar tujuan emosional?

Pasalnya memahami emosi audiens ini yang masih sering kelewat ketika para marketer merencanakan konten buat bisnis klien mereka. Konten dengan struktur teknikal yang bagus, ternyata belum cukup bikin orang mau ngontak bisnis di balik konten tersebut, kalau belum njawab pertanyaan emosional orangnya. Padahal, audiens itu perlu dijawab dulu sisi emosionalnya sebelum mereka mau berurusan dengan bisnis tersebut.

Di atas panggung, Reza sempat ceritakan tentang pengalamannya melayani klien yang nyewain yacht di kawasan Papua. Ternyata audiensnya yang jadi target marketing yacht itu punya sisi emosional tertentu, mau berlayar di area itu kalau pelayarannya bisa ikut bantuin jaga kelestarian terumbu karang. Dampaknya bisa diduga, klien macam begini lebih tertarik nyewa yacht kalau kontennya juga pasang diskusi tentang pelestarian lingkungan bahari.

Dari insight para praktisi digital marketing di SCALECON ini, saya narik pesan yang konsisten untuk dibawa pulang. Konten itu bisa efektif di tengah-tengahnya tren penggunaan AI selama konten itu bisa dipahami mesin, sekaligus nyambung dengan emosinya audiens. Kalau bisnis yang bikin konten itu nggak memahami tujuan emosi audiensnya, akan susah banget ngarepin kontennya masuk ke dalam set rekomendasinya AI.

Banyak dari mereka yang belum ngeh apa bedanya konten yang dibangun untuk mengisi halaman belaka, dengan konten untuk membangun authority yang layak ketika dievaluasi oleh sistem AI.

Vicky Laurentina, 2026

Maka strategi buat rencanain konten pun jadi lebih dalem, antara lain gimana AI dalem search engine bisa ngevaluasi kualitas konteks dan kepakaran di balik konten itu?

AI dalam search engine sudah membaca struktur informasi dan hubungan topik antar konten dengan cara yang beda daripada era dulu. Memahami cara ini akan menentukan apakah investasi bisnis Anda terhadap suatu konten akan bisa menghasilkan atau tidak. Pahami framework-nya dengan mulai dari panduan ini:

Leave a Comment