Indonesian Food Blogger
Step into a corner of the internet where the Surabaya food blogger perspective comes alive. This is more than a collection of posts. It is a curated space where flavours meet storytelling, and Surabaya culinary experiences are explored with both curiosity and expertise.
Each piece brings fresh insight into the city’s food heartbeat, from the heritage of a recipe to the craft of marketing for Surabaya restaurants, and the thrill of tasting something unforgettable in East Java’s dining scene.
One moment, you might find yourself learning about the traditions behind Japanese favourites. In my article at Ini Lho Nama-nama Sushi, Mana yang Belum Kamu Coba?, I take you inside the meaning of sushi names and show how understanding them adds richness to the dining experience.
Another day, I might guide you through the art of writing social media promotions for an F and B brand, where the right words can transform a menu item into a craving. That insight is shared at Gimana Sih Nulis Iklan Makanan buat Sosmed-an?, reflecting my work as an Indonesian food content creator who blends flavour with communication strategy.
As someone deeply connected to the city’s dining culture, I am also drawn to the legends that define Surabaya food. One of them is the bold Nasi Goreng Jancuk. And since no East Java dining guide feels complete without highlighting what people are currently enjoying, I have also written about dishes worth trying in Surabaya, from taste to pricing, in my article at Rawon Pak Pangat Ternyata Buka Pagi.
Every post here is crafted with the care of an Indonesian cuisine blogger who believes food is more than a meal. This is a space where taste meets meaning, where the details matter, and where the role of a blogger is to uncover the stories, strategies, and spirit behind every plate.
From discovering Surabaya culinary treasures to finding the next favorite among its marvellous restaurants, these stories offer insights you can trust as part of an authentic East Java dining guide.
Bikin Masakan Enak, Praktis dan Nampak Mahal
Dulu ketika saya dan suami masih pacaran, dia sering merayu saya dengan minta dimasakin. Rayuannya waktu itu cukup bikin saya tersanjung juga, mengingat sebetulnya kemampuan memasak saya sangat pas-pasan.
Sekarang sih, kalau saya dimintain masak, saya hampir selalu meliriknya curiga. Apakah kamu sedang malas mengantar saya keluar rumah karena malu mobilmu nampak berdebu padahal kamu lagi malas mengelap? :-p
Masakan Ikan Tuna Cepat Saji untuk Si Sibuk
Pas bulan puasa begini, saya sibuk refreshing ide untuk bikin makanan cepat saji. Karena proyek artikel yang dioper ke saya makin banyak saja, padahal saya juga tergopoh-gopoh mesti memasak buat anak dan suami. Makin hari saya kudu makin lihai nyiapin masakan dalam tempo cepat, padahal seringnya makanan yang cepat dimasak itu berbanding terbalik dengan kadar kenikmatan masakan. Jadi untuk alasan cepat, saya biasanya pilih menu ikan. Soalnya, ikan nggak kayak daging yang mesti dimasak dulu sampai matang, dan nggak kayak ayam yang kalau dipanasin lama-lama pun banyak protein di dalamnya yang rusak. Dan di Surabaya tempat saya tinggal, paling gampang mencari masakan ikan laut karena posisi geografisnya yang di pinggir pantai.

Kalau ditanya masakan ikan laut favorit saya itu apa, saya sih bakalan jawab: tuna. Karena tuna gampang dimakan lantaran nggak mengandung banyak tulang. Manfaat ikan tuna sudah jelas, semua orang pun tahu bahwa ikan tuna itu banyak gizinya. Kalsiumnya banyak, omega tiganya banyak, dan untuk versi fillet sering saya kasih ke bayi saya untuk urusan nutrisi. Tuna versi kalengan pun banyak ditemukan di supermarket, dan seringkali saya beli lantaran tuna kalengan merupakan masakan cepat saji, alias sudah siap dimakan tanpa harus repot-repot memasaknya dulu di atas kompor (solusi buat yang doyan travelling dan seringkali harus makan di dalam mobil yang sedang berjalan). Dan satu lagi, menu ikan tuna itu jarang bau amis, biarpun termasuk ikan laut juga.
Tapi saya seringkali kesulitan dengan menu ikan yang satu ini. Entah kenapa saya nggak pernah lulus dalam urusan cara memasak ikan, bahkan termasuk masak ikan tuna. Perawakannya yang kecil-kecil tanpa tulang bikin tuna cepet rapuh di wajan (kalau kita ngeyel mau beli tuna fillet, bukan tuna kalengan yang ada pengawetnya). Kalau saya panaskan di atas kompor, saya balik dikit aja, badannya langsung hancur. Iya nggak ngefek kalau dimakan sendiri. Yang repot itu kalau mau dijadiin toppingnya bruschetta (saya kan pernah nulis di sini bahwa saya senang bikin bruschetta), kalau badannya hancur kan ya malu-maluin kalau mau difoto. Makanya saya jarang banget ngunggah foto masakan ikan tuna saya ke Instagram. Lha gimana mau difoto, begitu ikan tunanya saya jepit, perutnya langsung hancur, pyurr..